PORTAL DI TENGAH CORONA

0 Komentar

Keluhan kepala desa itu adalah “keluhan ekonomi” yang menjadi persoalan Jawa Barat dan masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk keluhan orang Jakarta walaupun daerahnya menjadi pusat transaksi ekonomi nasional.
Berbagai keluhan terus menghujam perjalanan bangsa, namun corona tidak sirna dengan keluhan dan kemarahan sekalipun dimarahi oleh penguasa negara adidaya seperti Donald Trump. Angka terjangkit terus bertambah dan angka kematian terus terdengar. Kalau saja masyarakat menjadi frustrasi dan melawan pemerintah sambil mengatakan “persetan dengan diam di rumah!” maka berpeluang besar corona semakin mewabah dan persoalan akan menjadi tidak terbayangkan besarnya.
Suka atau tidak suka, marah atau tidak marah, kesal atau tidak kesal, memang tidak ada jalan lain, bagi masyarakat yang berada di negara berkembang seperti Indonesia dan negara miskin. Harus lebih mengikuti protokoler pemerintah sebagaimana instruksi Saan Mustofa pada jajaran NasDem di Jawa barat dalam acara Launching NasDem Peduli Cegah Covid-19 di Cibiru Bandung—harus lebih berdisiplin dan senantiasa bekerjasama dengan Pemerintah pada semua tingkatan.
Menganalisa dangkal sekilas, kejadian positif corona di Subang-Jawa Barat, mereka yang terjangkit mempunyai riwayat perjalanan dengan zona merah. Bahkan dua pasien berasal dari zona merah dan salah satunya bekerja di Kabupaten Subang. Berdasarkan berita, masyarakat mengetahui cerita kejadian positif corona di Subang, maka beramai-ramailah memasang portal untuk menseleksi masyarakat yang berlalu lalang ke lingkungan tersebut.
Seumur hidup, masuk ke daerah sendiri atau ke kampung sendiri dari perjalanan usaha di kota harus berhadapan dengan portal yang dijaga penduduk setempat, segawat apakah ini? Berbagai tanggapan pun muncul seiring dengan adanya pedagang keliling (kecil) yang hasil dagangannya hari ini untuk kebutuhan hari ini tertahan di portal baru dipasang. Dan perbedaan pendapat pun terjadi, antara warga yang pulang dari tempat pekerjaan di luar daerah merasa cukup terusik pulang ke rumahnya atau yang mempunyai istri di lingkungan portal dan datang dari kota seminggu sekali.
Apalagi, di saat musim corona seperti ini, walaupun ada video Whathsapp, melihat keluarga secara langsung jauh lebih dirindukan dibandingkan hari-hari tanpa corona. Mungkin pedagang kecil keliling merasa cukup terganggu dengan adanya portal yang serempak dipasang di berbagai lingkungan masyarakat.

0 Komentar