Tanpa Riba

0 Komentar

Ia pengusaha besar. ”Saya dulu ingin, di bidang saya ini, menjadi yang terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Keinginannya itu tercapai. Antara lain melalui utang bank. Tapi utang itu kian lama kian besar. Hidup tidak tenang. Apalagi setelah menyadari bunga itu riba (haram).
Maka David bertekad melunasi utang. Juga tidak mau lagi berutang di bank. Ia tidak peduli lagi akan tetap jadi ”raja alat kesehatan” atau tidak.
”Sekarang sih masih yang terbesar,” kata David. ”Saya punya merk sendiri di samping menangani tiga merk dari luar negeri,” katanya.
Bagi David menjadi besar cukup. Tidak lagi harus yang terbesar-tapi-belepotan-riba. ”Saya pun, di alat kesehatan, tidak mau lagi ikut proyek pemerintah,” katanya. Ia tidak mau kalau harus menyogok.
Lain lagi dengan Thohir Fauzi. Yang usaha garmennya sampai ekspor ke Korea Selatan. Yang pabriknya di luar kota Ponorogo –dekat Pondok Modern Gontor.
”Utang bank itu seperti candu. Tidak bisa lepas. Selalu saja top up,” ujar Thohir. ”Tidak ada di antara kami ini yang utangnya berkurang. Dari tahun ke tahun terus naik,” katanya. ”Kami takut sampai meninggal pun masih punya utang,” tambahnya.
Padahal, kata mereka, barang siapa meninggal masih punya utang akan masuk neraka. Itulah sebabnya di kuburan selalu ada adegan deklarasi utang.
Perwakilan keluarga selalu bertanya kepada kerumunan pelayat yang ada di kuburan itu: kalau almarhum punya utang agar menghubungi keluarga. Untuk diselesaikan.
Sedang untuk utang yang kecil-kecil, pihak keluarga biasanya minta agar diikhlaskan. Terutama bagi mereka yang tidak mau menagih –karena tidak seberapa atau karena iba. Jangan sampai tidak menagih tapi juga tidak mau merelakan.
Diskusi di halaman belakang itu pun asyik –di bawah dua pohon besar di situ. Membicarakan utang memang tidak kalah menarik dari seks.
Lho apa hubungan utang dengan seks?
Ternyata ada. ”Kalau lagi jatuh tempo sampai tidak bisa melakukan itu,” ujar Arianda Dwi Wanto. ”Stress-nya luar biasa,” tambahnya.
Saat-saat jatuh tempo seperti itu, kata mereka, sering harus bertengkar dengan istri. Soal kecil pun bisa menjadi penyebab pertengkaran. Kenapa? ”Karena sensitif,” kata Arianda.

0 Komentar