HOKI 2: Jawaban Telepon

0 Komentar

Kesibukan kang Maman sebagai mubaligh, atau dalam istilah K.H. Fuad Hasyim, “tukang ngomong”, terlihat saat hendak berangkat. Ia sering lupa tempat dan acara pengajiannya.
Sudah menjadi kebiasaan para kiai pesantren, mereka tidak menuliskan agenda dalam buku yang khusus, tapi hanya membuat lingkaran di kalender yang terpampang di ruang tamunya.
Semakin banyak lingkaran, semakin sibuklah sang kiai, semakin kebingunganlah ia: agenda apa yang harus ia kunjungi. Tulisan di kalender semakin tidak jelas oleh kreativitas para pengundang yang menulis sendiri jadwal undangannya di kalender Kiai dengan tulisan campuran; huruf latin yang kearab-araban dengan huruf Arab yang sulit dibedakan dengan sandi rumput!
Dalam keadaan seperti itu, ia akan menunggu telepon dari panitia atau shahibul-bait.
“Kring…”
“Ya halo, dengan siapa ini?” Kang Maman mengangkat teleponnya.
Maka terdengarlah jawaban dari pihak panitia, “Saya sendiri, kiai, tidak dengan siapa siapa.”
TIP 1: KESIAPAN
• Niat yang ikhlas, Innamal-a’malu bin niyyâh. Sesungguhnya stiap perbuatan tergantung pada niatnya. (Hadis)
• Materi yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Atau dalam bahasa santri harus balaghah: waja’ala balaghah al-kalami thibåqahû lil-muqtadhal-maqâm. Balaghah pada perkataan adalah kesesuaiannya pada situasi dan kondisinya.
• Performance yang prima. Wajah yang ceria (al-wajh ul-malih), serta aksesoris kiai (pakaian, kopiah dan sorban) harus bersih, rapih dan wangi.
IBRAH
Karena kurang persiapan, seorang mubaligh menanggung malu saat ceramah di mushallanya. Dengan terburu-buru, ia disambut riuh jamaah, bukan karena kedatangannya, tapi karena yang ada dibahunya bukan sorban, tapi BH istrinya!

0 Komentar