Merdeka Belajar dalam Bingkai Covid 19

0 Komentar

Oleh: H. Agus Prasmono, M.Pd.
(SMAN 1 Ponorogo, Jatim)

Beberapa bulan lalu sebelum Covid 19 melanda dunia, dalam sebuah pertemuan ilmiah, tanpa saya duga sebelumnya saya mendapat sebuah kenangan dari seorang sahabat yang juga Widyaiswara di PLPM Jawa Timur (Dr. Wahyu Nugroho) sebuah buku yang cukup menarik tulisan beliau dengan Judul ”Merdeka Belajar sebuah Pilihan”. Sang Penulis memang kreatif, wacana merdeka belajar yang baru saja dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadhim Anwar Makarim, langsung disambut dengan menulis sebuah buku tersebut. Ini jelas sebuah kecerdasan literasi yang patut mendapat apresiasi karena tidak banyak orang yang melakukannya.
Setelah buku itu saya baca secara acak isi yang saya anggap penting, sebelum saya baca semua isinya sudah saya taruh bersama temannya di rak buku. Dan memang menjadi kebiasan saya buku-buku itu baru saya lirik kembali ketika sedang menulis artikel sebagai bahan rujukan agar terkesan “Ngilmiahi” karena memang saya tidak bisa berbuat terlalu ilmiah kecuali hanya sekedar menulis “sakcandake” dan sebatas kemampuan keawaman saya sebagai penggemar dunia literasi.
Namun tanpa dinyana, awal Maret Indonesia masuk dunia baru yaitu dengan masuknya Virus Corona (Covid 19) yang sebelumnya ditanggapi dingin oleh Pemerintah karena dianggap Indonesia aman atau kebal dari virus itu. Dan mulai tanggal 16 Meret 2020 semua siswa diliburkan (Baca: Libur sekolahnya tetapi pembelajaran tetap hanya berganti metode), sehingga dunia pendidikan betul-betul memasuki dunia baru yang sebelumnya tidak pernah disangka dan diduga oleh seluruh komponen pendidikan mulai Kepala Sekolah, Guru, Siswa dan orang tua sendiri. Bahkan semua elemen bangsa menjadi kalangkabut akibat perkembangan Corona di Indonesia yang semakin cepat dan tak terkendali ini. Bahkan para ahli kesehatanpun belum bisa memprediksi kapan berhentinya Covid 19 di Indonesia ini karena sampai saat tulisan ini diketik masih terus berjatuhan korban corona ini.
Dalam pengantar buku itu sang penulis mengutip pernyataan Menteri Pendidikan, “Keberagaman di Indonesia begitu besar, sehingga apapun yang kita lakukan untuk menstandarisasi akan ada dampak buruk. Jadinya flatform apa filsafat yang mengikat perubahan itu adalah konsep merdeka belajar. Siapa yang merdeka? Semua intansi dalam sistem pendidikan kita” (Wahyu Nugroho. 2019: 12). Pernyataan itu dikutip dari pernyataan Menteri yang Juga Bos Gojek itu pada tanggal 28 Nopember 2019. Tiga bulan berselang setelah pernyataan itu, terjadilah pandemi yang melanda dunia dan Indonesia termasuk Negara yang kena wabah itu. Tiga bulan setelah munculnya pernyataan itu sebenarnya Makarim tidak pernah memprediksi kondisi ini. Tetapi petuah leluhur ada istilah “Sabda Pandita Ratu”, yang berarti kurang lebih bahwa apa yang diucapkan oleh pemimpin bakal benar adanya.

0 Komentar