Ditengah Pendemi Covid-19, Bisnis Pariwisata Masih Sulit Bertahan

0 Komentar

LEMBANG-Dibukanya kembali objek wisata di Lembang Kabupaten Bandung Barat, setelah tiga bulan ditutup akibat pandemi virus korona (Covid-19) tak serta merta langsung mampu membangkitkan iklim bisnis pariwisata.
Adanya kebijakan Pemprov Jabar dalam hal pembatasan pengunjung dimana pengelola objek wisata hanya dibolehkan untuk menerima kunjungan sebanyak 30 persen dari kapasitas, serta larangan wisatawan luar daerah berkunjung ke objek wisata Jabar sangat berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan.
“Pendapatan pasti terganggu, tapi sekarang ini kan kita ingin menjaga keamanan pengunjung dulu. Salah satunya dengan cara menaikan harga tiket untuk mencegah membludaknya wisatawan,” terang GM Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC), Bagus Widi Prasetyo.
Bagus menerangkan, sejak objek wisata kembali dibuka Sabtu (13/6) lalu, TWGC mulai didatangi pengunjung namun belum normal seperti biasa. Meski sudah hampir sepekan beroperasi, pemasukan yang diperoleh belum sebanding dengan pengeluaran operasional sehari-hari.
“Jangankan profit, untuk mengcover operasional juga belum dapat. Bahkan untuk bayar gaji karyawan enggak akan cukup,” bebernya.
Dari kapasitas 30 persen yang dibolehkan pemerintah, dia menyebut, pengunjung yang datang masih di bawah 10 persen. Tidak itu saja, okupansi penginapan juga belum ada kenaikan, walau sebetulnya sudah ada calon pengunjung yang datang, namun pihaknya tolak karena berasal dari luar daerah.
“Sudah ada dari Banten dan Jakarta yang pesan kamar tapi kita tolak. Sebenarnya kalau bicara bisnis, pengunjung dari Jakarta biasanya full mulai dari nginap, wisata sampai makannya, jadi kita dapat profit lebih. Berbeda dengan wisatawan Bandung, mereka hanya datang untuk wisatanya saja,” katanya.
Berbagai strategi dilakukan, salah satunya dengan merumahkan karyawan. Di saat seperti sekarang dimana kunjungan belum 100 persen normal, pihaknya membagi hari kerja karyawan agar yang penting mereka masih bisa bertahan dan demi mengurangi dampak negatif lebih luas lainnya.
“Strategi kita hanya merumahkan karyawan dan mereka juga memahami keputusan itu. Biar enggak ada karyawan yang dirugikan, kita gilir hari kerjanya, kita juga hanya membayar karyawan yang hari itu bekerja. Misalnya di HRD, dari total 5 karyawan, dua orang kerja dan tiga lainnya dirumahkan, besoknya digilir. Begitupun bagian lainnya, jadi tidak semuanya bekerja di hari yang sama,” ungkapnya.

0 Komentar