oleh

Tarik Minat Wisatawan, The Great Asia Afrika Gelar Pentas Budaya

LEMBANG-Kondisi lalu lintas di kawasan Lembang Kabupaten Bandung Barat kembali padat pada libur Idul Adha tahun ini. Meski lalu lintas padat dan ada peningkatan jumlah pengunjung objek wisata dibanding bulan sebelumnya, namun hal ini belum terlalu signifikan.
Pihak pengelola menduga belum pulihnya perekonomian serta kekhawatiran penyebaran Covid-19 jadi alasan masyarakat menunda kunjungan wisata.
“Normalnya, sebelum pandemi Covid-19 jumlah pengunjung bisa mencapai 10 ribu orang. Namun di hari ini paling hanya 4 ribu orang. Kita pikir wisata akan kembali normal seperti biasa, ternyata meleset,” kata pengelola The Great Asia Afrika, Perry Tristianto, Minggu (2/8).
Baca Juga: Destinasi Wisata Baru, Saung Kondang Butuh Perhatian
Bahkan, di mengaku, pada hari-hari biasa jumlah pengunjung anjlok hingga 300-400 orang per hari. Untuk menormalkan kembali jumlah pengunjung, pihaknya berencana akan mengembalikan harga tiket masuk yang semula Rp65 ribu menjadi Rp50 ribu seperti sebelum pandemi Covid-19.
“Awalnya kita optimis pengunjung bisa mencapai target 50 persen dari kapasitas meski tarif masuk dinaikan untuk membatasi jumlah pengunjung semenjak kembali dibuka Juni lalu, tapi ternyata enggak, sulit sekali. Kita enggak tahu apakah masyarakat takut Covid-19 atau karena tiket yang terlalu mahal, makanya mulai Senin besok akan diturunkan lagi (tiket),” ujarnya.
Dengan jumlah pengunjung yang belum memenuhi target, dia mengatakan, kondisi tersebut berpengaruh besar terhadap perkembangan usahanya, terutama untuk membayar gaji ratusan karyawannya. “Jika kapasitas objek wisata penuh, kami masih kekurangan karyawan untuk melayani wisatawan. Tapi kali sekarang boro-boro, paling hanya cukup untuk bayar gaji karyawan yang bekerja saat ini,” bebernya.
Pihaknya tak bisa memprediksi kapan sektor pariwisata kembali pulih akibat wabah Covid-19. Namun dia menyatakan, pulihnya sektor ini sangat tergantung pada sektor perekonomian serta hadirnya vaksin antivirus korona yang sedang dikembangkan pemerintah. “Sektor pariwisata kan sangat tergantung sektor lainnya, kalau masyarakat belum punya income, tentu jadwal rekreasi atau liburan juga harus tertunda,” ucapnya.(eko/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *