Singa Putih

0 Komentar

Oleh: Dahlan Iskan

“Ini jimat,” ujar kiai itu saat menyerahkan amplop kepada saya.
Sejak awal saya menduga amplop itu isinya uang. Maka saya pun memberi isyarat tidak mau menerimanya. Tapi begitu kiai mengatakan ‘ini jimat’ pikiran saya berubah. Tiwas saya punya prasangka yang salah. Oh… Ternyata isinya bukan uang. Mestinya.
Saat itu, kemarin malam, saya pamit lebih dulu meninggalkan acara. Saya sudah mendengar pidato sang kiai. Saya juga sudah mengikuti sambutan kiai Asep Saifudin Chalim, yang profesor doktor itu. Pun saya sudah memenuhi keinginan sang kiai untuk pidato motivasi pendek pada santri di situ.
Saat saya mau pamit sang kiai mengambil tas tangan di kursi. Membukanya. Mengambil amplop agak tebal. Saya mundur dan menolak.
“Ini jimat,” katanya.
Jimat adalah benda yang mengandung kekuatan magis –bagi yang percaya. Saya pun menebak-nebak: jimat apa yang ada di dalam amplop itu. Saya bawa saja. Saya simpan di mobil. Saya tidak ingin membuka jimat itu.
Saya sudah punya banyak jimat. Bentuknya macam-macam. Mulai Alquran seukuran kuku jempol sampai batu akik. Tapi jimat yang baru saja diberikan itu sepertinya bukan benda keras. Sepertinya lembaran-lembaran uang. Yang kalau melihat tebalnya bisa jadi bernilai Rp 5 juta –kalau lembarannya Rp 100.000-an.
Sangat pantas kalau kiai itu memberi jimat. Sosok lahiriah kiai ini seperti Sunan Kalijogo abad 21. Rambutnya gondrong. Penutup kepalanya udeng hitam. Sarungnya hijau diubel-ubel. Bajunya jaket lusuh, terbuat dari jean butut. Kumisnya njaprang dengan ujung agak melengkung.
Mata kiai ini sayu seperti tidak pernah tidur. Suaranya berat tidak meledak-ledak. Kalau saja hobi menyanyi pasti suara seperti itu akan terdengar merdu. Sandalnya tua dan tanpa merek. Sewaktu naik podium, sandal itu dilepas sebelum naik panggung.
Nama kiai ini: KH Syaifullah Arif Billah. Umur: 52 tahun. Mobilnya banyak. Sekitar 20 buah. Ada Jaguar, BMW, Alphard, dan apa saja. Rumahnya tinggi, lima lantai. Lantai teratas untuk menyendiri, zikir, tafakur, semedi.
Pondok pesantren ini berlokasi di daerah Tretes, Prigen. Yakni di kaki timur Gunung Arjuno. Dari jalan raya harus masuk dulu gang kecil. Naik turun. Berkelok-kelok. Jalan itu menuju kampung khas pegunungan.

0 Komentar