oleh

Perjuangan Petani di Musim Kemarau, Jaga Malam Menunggu Giliran Air

SUBANG-Perjuangan petani dan hidup dalam dunia pertanian tak sesederhana saat menikmati hasil berupa beras. Ada banyak perjuangan yang dirasakan para petani mulai dari pupuk langka, pupuk mahal, hama, harga panen yang jatuh hingga kesulitan air.
Terkini, musim kemarau memberikan dampak pada minimnya pasokan air pada saluran irigasi hingga harus menunggu giliran.
Seperti yang diutarakan Kepala Desa Cigugur Kaler H. Eryanto Nursyahid. Ia mengatakan, selama 4 hari sesuai jadwal giliran, dirinya menempatkan orang dibeberapa pos dan pintu air serta titik rawan air dibelokkan. “Jadi yang jaga dibikin shift, ada shift siang juga malam. Semua terlibat mulai dari Kepala dusun, RT dan RW juga beberapa petani, jadi gantian,” ucap Kuwu Syahid sapaan akrabnya kepada Pasundan EKspres, Kamis (3/9).
Bahkan, kata dia, karena berbatasan dengan Desa Bogor yang masuk Kabupaten Indramayu, ada petugas juga yang ditempatkan diarea tersebut. “Airnya lewat talang melintas dari wilayah Indramayu, kan ini aliran dari Bugis juga, jadi ada juga yang ditempatkan di beberapa pintu disana. Sebab kalau tidak dijaga kadang air ada yang nyuri.
Maksudnya seperti bukain pintu atau nyedot, padahal bukan giliran nya,” jelasnya.
Tentu para petugas yang berjaga harus tidur di saung yang berada ditengah sawah untuk menunggu kelancaran air dan menjaga agar air tersebut bisa sampai ke wilayah Cigugur Kaler. “Kalau musim giliran gini ya petugas nginep itu sudah biasa, di desa manapun yang kesusahan air kalau jadwal giliran pasti menunggu, nginep di pintu atau di sawah,” imbuhnya.
Sementara itu, Camat Pusakajaya Drs Vino Subriadi yang juga sempat meninjau lokasi, mengungkapkan rasa keprihatinananya. “Ternyata kita Subang yang dibilang lumbung padi Jawa Barat nasional, memiliki persolan irigasi dan kesulitan air yang jadi masalah juga dilapangan. Perjuangan petani itu luar biasa, tidak mudah,” jelasnya.
Soal kesulitan air ini, ia juga melihat berbagai macam upaya yang dilakukan pemerintah desa di wilayah Kecamatan Pusakajaya. Mulai dari membuat bendungan secara manual atau tambak limpas, jaga giliran air, hingga melakukan upaya pompa atau dompeng.
“Semua cara pasti dilakukan, apalagi untuk daerah Pantura yang notabene sebagian besar lahan persawahan. Tentu kita harapkan agar kebutuhan air bisa mencukupi dan yang kering bisa terselamatkan, meski memang tidak mudah tapi kita terus berusaha, termasuk koordinasi dengan pengairan,” imbuhnya.(ygi/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *