Ki Tatang Dewantara

Ki Tatang Dewantara
0 Komentar

“Guru-guru secara massif didistribusikan ke sekolah terpencil. Dibuka sekolah-sekolah di daerah terpencil. Maka akses terhadap pendidikan terbuka. Memperkecil kesenjangan. Maka saat ini, melalui digital apa pun namanya, sama saja itu pun untuk membuka akses terhadap pendidikan. Dalam bentuk lain,” tegas Bung Kaka.

Saya baru merasakan, diskusi pendidikan terasa seru. Banyak dimensi lain dari pendidikan yang disampaikan. Muaranya kepada: merdeka belajar yang saat ini ditegaskan oleh Kementerian Pendidikan. Ciri khas dari kebijakan Mas Menteri Nadiem Makarim. Siswa didorong untuk belajar berbasis praktik, berbasis project. Guru mendampingi dan mengarahkan.

Kita diajak kembali kepada fondasi filsafat pendidikan:

Ing ngarso sung tulodo: guru di depan murid memberi contoh

Ing madya mangun karsa: memberi inspirasi dan bimbingan saat berada di antara murid

Tut wuri handayani: guru di belakang memberi kepercayaan kepada muridnya

Baca Juga:Suka Duka Guru Mengajar di Masa Pandemi Covid-19Gaduh Soal Dilarang Solat Ied Berjamaah dan Ziarah ke Pemakaman, Ini Jawaban Wabup

Saatu semboyan pendidikan karakter terkenal yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Pelopor sistem pendidikan nasional. Pendiri sekolah Taman Siswa sejak tahun 1922 yang tetap berdiri hingga saat ini. Memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia.

Saya pun memberi contoh, betapa pendidikan karakter sangat penting ada pada jiwa Taripin, pemuda asal Compreng yang kini menjadi petani bawang. Mas Ipin yang lulusan SMK itu, termotivasi oleh orang tuanya. Meski sudah jadi TKI di Taiwan, Kembali ke Compreng, Subang menjadi petani bawang. Teringat bimbingan, contoh dan pendidikan karakter dari orang tuanya.

Di momen Hardiknas, saya menemukan Ki Tatang Dewantara dan Ki Ipin Dewantara, penerus Ki Hajar Dewantara. Keduanya memberi contoh dan menginspirasi.(*)

Catatan Lukman Enha

Laman:

1 2 3
0 Komentar