Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 57

Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 57
0 Komentar

Humor, penguatan civil society, pembelaan terhadap orang-orang atau kelompok yang tertindas atau ditindas, adalah jalan hidup Gus Dur.Terlepas dari segala kontroversi yang menuai pro-kontra, menegakkan prinsip kemanusiaan, kesetaraan dan keadilan yang universal menjadi fondasi dari semua laku lampahnya.
Gus Dur menjadikan civil society sebagai wasilah untuk melakukan kritik terhadap kebijakan yang tak konstitusional dan memunggungi prinsip universal. Namun tetap dengan menjaga marwah simbol-simbol kenegaraan. Semuanya didasari atas pemahaman substantive dari ajaran agama yang tak simbolis.
“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.” Gus Dur mengingini kedamaian untuk membangun bangsa.
Orang-orang seperti Gus Dur adalah sedikit dari manusia Indonesia yang otentik. Yaitu manusia yang berani memerjuangkan cita-cita luhur konstitusi, kuatnya civil society dan nilai-nilai universal demi membangun peradaban Bangsa Indonesia. Jauh dari kepentingan sendiri dan bergeming oleh godaan para oligarkh. Manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Memerjuangkan penguatan civil society dan nilai universal seharusnya menjadi landasan “kebijaksanaan” sistem politik perwakilan. Sila keempat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan” membutuhkan manusia Indonesia yang otentik. Orang-orang seperti Gus Dur, Buya Syafi’i, dan orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya, adalah segelintir manusia otentik dari sekian banyak manusia Indonesia. Karena Peradaban Indonesia Maju salah satunya dibangun oleh manusia-manusia otentik. (050821)

Laman:

1 2
0 Komentar