oleh

The Next Gus Dur, Ini Profil Lengkap Yahya Cholil Ketua Umum PBNU 2021-2026

PROFIL – KH Yahya Cholil Staquf atau lebih dikenal dengan sapaan Gus Yahya, lahir di Rembang pada tanggal 16 Februari 1966. Gus Yahya juga adalah seorang Kiai, ulama serta tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-33 NU di Lampung, ia menjabat sebagai Katib Aam PBNU.

Gus Yahya ialah saudara dari Menteri Agama RI KH. Yaqut Cholil Qoumas. Gus Yahya juga adalah putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Yahya merupakan pengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Selanjutnya, Riwayat pendidikan Gus Yahya, dikutip dari Wikipedia, via Jawapos, yaitu pernah menimba ilmu di pesantren dan ia juga merupakan murid KH Ali Maksum di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Di jenjang pendidikan tinggi, Gus yahya tercatat pernah menempuh pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia aktif dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.

Gus Yahya juga pernah menjadi juru bicara Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 31 Mei 2018, Gus Yahya dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta.

Lalu, di tahun 2014, Gus Yahya menjadi salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yaitu Bayt Ar-Rahmah Li adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian juga rahmat alam.

Kakak dari Menteri Agama Gus Yaqut ini pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama Agama di Amerika Serikat – Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Gus Yahya sempat didaulat sebagai utusan GP Ansor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) juga sempat mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan di sana serta menawarkan gagasan bernas.

Ia kerap didaulat menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, Gus Yahya menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum tersebut, Gus Yahya menyuarakan dan menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi untuk konflik dunia, dan konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia lewat jalur penguatan pemahaman agama yang damai.

Setelah kunjungannya tersebut, banyak orang memaki-makinya, menudingnya sebagai antek Israel, marah-marah, ada yang mendoakannya masuk neraka. Tetapi begitulah, Gus Yahya tidak bergeming dan memilih tetap santai.

Kemudian, pada 15 Juli 2021, Gus Yahya mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. Pada kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

The Next Gus Dur, Ini Profil Lengkap Yahya Cholil Ketua Umum PBNU 2021-2026

Lalu di hari ketiga konferensi tingkat tinggi (KTT) itu Gus Yahya mendapat apresiasi dari tokoh-tokoh dunia. Gus Yahya menerangkan bahwa dinamika bangkitnya nasionalisme religius adalah bagian metode untuk pertahanan saat suatu kelompok agama yang biasanya adalah mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya.

Menurut Gus Yahya, kebangkitan ini tidak terelakkan sebab dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban masa depan. Selain itu, dinamika internasional sudah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur (single interfused global civilization).

Gus Yahya memberi ketegasan bahwa persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Oleh sebab itu, Gus Yahya mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara guna mengelolanya sebelum terlanjut meletus konflik global yang kian parah.

Solusi yang ditawarkan oleh Gus Yahya ialah dengan menawarkan strategi dan model perdamaian dunia seperti yang selama ini sudah dipraktikkan warga NU.

Gus Yahya menawarkan berbagai macam solusi:

  • Langkah awal harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama. Nilai-nilai itu antara lain kejujuran, kasih-sayang dan keadilan.
  • Dunia  harus membangun konsensus atas nilai-nilai yang perlu disepakati agar semua pihak yang berbeda-beda bisa hidup berdampingan dengan damai. Bahkan nilai-nilai tradisional yang menghambat koeksistensi damai pun layak untuk diubah.
  • Strategi NU yang menyatakan bahwa kategori kafir tidak mempunyai relevansi hukum dalam konteks negara bangsa modern perlu dikontekstualisasi dalam hal itu.

Presiden Terong Gosong

Dilansir dari alif.id via Jawapos, pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang itu menjabat sebagai Presiden Republik Terong Gosong sampi saat ini

Tak banyak yang tahu tentang jabatan tersebut. Terong Gosong ialah sebuah komunitas yang didirikan oleh Gus Yahya, lalu ia didapuk sebagai presiden oleh para pengikutnya.

Pada tanggal 13 Mei 2009, Terong Gosong lahir lewat jejaring sosial Facebook. Menurut Gus Yahya, tak ada tujuan khusus atas berdirinya Terong Gosong kecuali hanya untuk memanfaatkan teknologi agar bisa mendokumentasikan cerita-cerita di seputar dunia pesantren.

Hingga saat ini, anggota komunitas Terong Gosong lebih dari 39.000 orang. Terdapat ratusan  konten yang terpampang pada halaman Facebook Terong Gosong, umumnya adalah cerita pendek jenaka yang mengundang gelak tawa. Berawal dari sini, lahirlah buku The Terong Gosong (jilid 1) dan Terong Gosong Reloaded (jilid 2).

Buku tersebut berisi kumpulan kisah-kisah yang sempat diunggah di halaman Terong Gosong. Pada kata pengantar kita bisa mengetahui kronologi lahirnya buku tersebut. Asal mula terbitnya buku itu adalah dari sebuah komunitas, Terong Gosong, di laman penggemar Facebook.

Menurut Gus Yahya, laman Facebook tersebut dimaksudkan untuk wadah silaturahmi para pengguna Facebook dari kalangan pesantren. Agenda utama dari komunitas ini ialah bertukar humor dan pengalaman lucu berkaitan dengan dunia pesantren.

Walaupun pada kata pengantar Gus Yahya menyebut buku tersebut hanya mengajak tertawa saja, tetapi ada banyak sekali hikmah, pelajaran, serta sejarah yang bisa dipetik dari buku tersebut.

Konten dari buku itu sama persis dengan cerita-cerita lucu yang tidak asingbagi kaum sarungan. Umumnya, kisah-kisah humor di kalangan santri turun menurun diceritakan melalui budaya tutur yang telah mengakar di dunia pesantren.

Lewat buku ini, Gus Yahya juga berusaha melestarikan kisah-kisah jenaka yang telah bertahun-tahun tumbuh subur dan alami di kalangan santri.

Dengan cerdas buku ini hadir di tengah ketegangan Warga Negera Indonesia (WNI) yang belakangan kerapkali mengernyitkan dahi, merengut, bahkan sulit untuk sekadar tertawa. Sesuai dengan tagline komunitas Terong Gosong, yakni ketawa secara serius, buku ini berisikan cerita pendek bernuansa humor yang akan memantik ledekan tawa yang serius, ketawa yang paripurna bukan ketawa dengan main-main.

Kelebihan Buku

Salah satu kelebihan buku tersebut adalah sanad dari kisah-kisah jenaka yang disajikan mutasil atau bersambung langsung dengan tokoh yang terdapat dalam cerita.

Hal tersebut tentu saja tidak mengejutkan, dalam tradisi NU sanad adalah hal istimewa yang begitu berharga. Dengan sanad yang jelas, konten dari buku itu dapat mengajak pembaca meresapi, mengikutsertakan emosi ketika membaca, serta tentu bisa  dipertanggungjawabkan.

Jarang diketahui, NU merupakan gudangnya cerita lucu atau guyonan. Setiap generasi NU dari masa ke masa selalu membawa kisah humor segar. Mulai dari zaman pendiri NU, Mbah Hasyim Asy’ari, sampai turun-menurun ke cucunya, Gus Dur, dan tentu saja diwarisi oleh para santri mutakhir saat ini.

Dalam buku tersebut, Gus Yahya banyak menceritakan cerita humor sesepuh NU, terlebih Gus Dur, baik sewaktu beliau menjadi presiden maupun saat sudah tidak lagi menjabat. Cerita-cerita mengenai Gus Dur ia kisahkan dengan detail, dan gamblang tanpa aling-aling.

Tak hanya sekedar bercerita, Gus Yahya juga sering terlibat, menjadi saksi dalam kisah Gus Dur yang mengundang decak kagum, dan tentu tidak bisa disangka-sangka oleh siapa pun.

Lewat buku tersebut, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah heroik para sesepuh NU seperti Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Ma’shum, Gus Dur serta masih banyak Kiai yang lain. Para sesepuh NU tersebut tidak hanya luas ilmu agamanya, namun juga sangat rendah hati, ngemong umat, serta memanusiakan manusia. (Jni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *