Minim Peminat, Supir Angkot di Subang Makin Sulit Bertahan

Minim Peminat, Supir Angkot di Subang Makin Sulit Bertahan
0 Komentar

SUBANG-Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DPC Subang, Ade Obreg Kusnadi menilai kenaikan BBM menjadi perhatian semua pihak. Kondisi yang sudah sulit menjadi makin sulit.

“Perkembangan zaman, makin kurang minat masyarakat naik angkutan umum, ditambah sekarang BBM naik,” katanya.

Ade menjelaskan, bahan bakar angkutan seperti pertalite dan solar yang merupakan bahan bakar bersubsidi, sangat berarti bagi pemilik dan pengguna kendaraan angkutan umum. Pasalnya, dengan pendapatan yang bisa dibilang pas-pasan karena kurang minatnya masyarakat naik angkutan, ditambah lagi BBM yang naik. “Bisa bikin pusing tujuh keliling kalau seperti ini,” katanya.

Baca Juga:Kejaksaan Subang Tahan Mantan Sekjen Partai, Diduga Selewengkan Bantuan Keuangan DesaDampak kenaikan BBM, Harga Sembako dan Sayuran di Subang Naik 50 Persen

Angkutan Umum di Kabupaten Subang, Ade memaparkan, yang terdata ada sebanyak 727 kendaraan angkutan umum, yang melintas sesuai dengan trayeknya. Organda akan melakukan monitoring ke jalan hari ini hingga Selasa, guna melihat perkembangan. “Hal tersebut menjadi tolok ukur apakah nantinya akan ada permintaan kenaikan tarif angkutan atau tidak,” katanya.

Sopir Angkutan Kota jurusan Subang – Pagaden Romli (50) mengatakan, dirinya hanya supir bukan pemilik kendaraan. Setor perharinya mencapai Rp200.000 kepada pemilik kendaraan yang dikemudikannya. Kenaikan BBM makin membuat jengah, pasalnya untuk target perhari sudah sangat pas-pasan, ditambah lagi kenaikan BBM.

“Kalau kita sih, gimana ya. Narik 1 sampai 2 rit itu pas-pasan. Tahu sendiri kan, sekarang makin jarang yang mau naik angkutan,” katanya.

DPRD Prihatin

Sementara itu, Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Subang Asep Hadian merasa prihatin. Pemerintah tetap menaikan BBM subsidi di saat rakyat baru saja bernafas dalam pemulihan ekonomi, pasca Pandemi Covid -19. Belum lagi ada amcaman PHK buruh di beberapa industri di Subang. “Kami dari fraksi merasa prihatin,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Asep, terlihat jelas berbagai dampak terjadi mulai dari perang antar negara di dunia, sehingga industri di Subang banyak yang merumahkan karaywannya. Saat itu pula kondisi kenaikan harga-harga kebutuhan seiring dengan adanya kenaikan BBM ada di depan mata. “Ibarat jatuh tertimpa tangga,” katanya.(ygo/vry)

0 Komentar