Menakar; Bantuan Langsung Tunai dan Etos Kerja

Menakar; Bantuan Langsung Tunai dan Etos Kerja -Oleh: (Jejen Mujiburohman, Anggota ICMI Kab. Subang)
Menakar; Bantuan Langsung Tunai dan Etos Kerja -Oleh: (Jejen Mujiburohman, Anggota ICMI Kab. Subang)
0 Komentar

Oleh: (Jejen Mujiburohman, Anggota ICMI Kab. Subang)

“Apakah engkau tidak bekerja?” teguran halus Khalifah Umar bin Khattab kepada salah satu sahabatnya, Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi atau yang lebih terkenal dengan nama Abu Hurairah. Sahabat yang satu ini selain terkenal seorang yang sangat zuhud, juga sebagai perawi hadis yang kuat.

“Iya saya tidak mau bekerja.” Jawab Abu Hurairah. Umar bin Khattab berkata, “Ada yang melamar pekerjaan, orangnya lebih baik darimu, namanya Yusuf bin Ya’kub as.” Lalu, Umar membacakan salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menguatkan perkataannya itu: “Berkata Yusuf, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (Qs. 12:55). Ada banyak tafsir social dari kisah ini, begitu kuat agama menempatkan porsi kemuliaan bagi orang yang mau bekerja. Kehinaan dan keterbelakangan bagi orang pemalas.

Pasca Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, sebagai konpensasi bagi rakyat miskin, pemerintah segera mencairkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada banyak beragam BLT diantaranya; Bantuan Subsidi Upah (BSU), BLT Minyak Goreng, BLT dana desa, Bantuan Pokok Non Tunai (BPNT), BLT UMKM, BLT Kartu Prakerja, Bansos program Keluarga Harapan (PKH) dll.

Baca Juga:Komisi Informasi Provinsi Kritisi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Dinilai Tidak InformatifApa Hukum Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin? Begini Penjelasannya Dalam Islam

Bukan tanpa alasan dan tujuan pemerintah mencairkan Bantuan Langsung Tunai untuk orang-orang miskin.

Setidaknya untuk meminimalisir dampak negative dari kebijakan harga BBM yang menyebabkan semakin mahal harga pokok kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi BLT ini menjadi solusi jangka pendek yang banyak menimbulkan masalah baru, memicu korupsi dan pelbagai penyimpangan, membebani APBN, penyaluran dana tidak tepat sasaran, menimbulkan para spekulan yang memanfaatkan komoditas subsidi.

Dan yang lebih parah membawa dampak negatif dalam jangka panjang terhadap budaya, yakni menciptakan budaya ketergantungan dan sifat malas bagi masyarakat.

Sosiolog membagi kemiskinan pada kemiskinan absolut, relative, kultural dan structural. Pada kemiskinan kultural mereka mendefinisikan bahwa kemiskinan disebabkan karena kebiasaan dan sikap orang-orang dengan budaya santai dan ketergantungan pada luar dirinya yang tidak ingin meningkatkan taraf hidup mereka seperti masyarakat modern.

0 Komentar