Pojokan 138, NU Biasa

Pojokan 138, NU Biasa
Pojokan 138, NU Biasa
0 Komentar

Maka tipikal orang NU biasa ini, sering ditemukan pada rombongan peziarah kuburan. Entah kuburan siapa saja.

Mereka percaya “barokah” kiai NU, baik yang sudah wafat atau yang masih “jumeneng”.

Tapi orang NU biasa ini, tak pernah – jarang mendapat “keberkahan” elit NU. Bisa jadi elit NU yang mendapat keberkahan dari suara orang NU biasa.

Baca Juga:Cara Menghilangkan Ketombe Basah, 8 Cara Ampuh Ini Wajib Dicoba untuk Mahkota IndahmuSalep Gatal Kulit Karena Bakteri, Inilah Daftar Salep Ampuh Hilangkan Bakteri Menurut Apoteker Terpercaya!

Dan konon, ada yang berebut berkah, suara orang NU biasa. Bahkan suaranya, jadi rebutan!

Bisa jadi, orang NU biasa dari sejak dilahirkannya NU oleh Mbah Hasyim dan kawan-kawannya sampai sekarang, kadar pemahaman tentang NU-nya, tak bertambah.

Pun nasibnya, sebagai jama’ah NU, tak berubah. Yang berubah biasanya para pemimpin jama’ah-nya.

Entah karena barokah memanfaatkan jama’ah.

Orang NU biasa, tak terlalu hafal konsep-konsep molek seperti tasamuh (toleran), tawazzun (seimbang), adl (adil) atau segala konsep megah lainnya.

Toh mereka tak alergi dan biasa punya banyak teman dari berbagai suku dan agama. Terutama ketika mereka bercengkrama di pasar-pasar tradisional.

Namun orang NU biasa itu, tak suka dengan pikiran-pikiran radikal yang tak sesuai dengan tradisi NU.

Apalagi membahayakan negara, bangsa dan tanah air. Kalau ada yang demikian, orang NU biasa ini, biasanya paling depan.

Baca Juga:Apakah Carx Street Sudah Rilis di Android? Sudah Donk, Berikut Spesifikasi Minimum untuk Android, Klik IniDaftar Harga Es Teh Indonesia, Teh Viral untuk Penyuka Teh, Cek Harga Terbaru di Sini

Pun orang NU biasa, tak kagetan dengan berbagai pikiran muskil atau barang baru.

Selama yang baru itu bermanfaat dan maslahah, akan di terima dengan tetap mempertahankan tradisi yang baik.

Orang NU biasa berpikir sederhana, manut kiai kampungnya. “Opo jare kiai ae – apa kata kiai saja”.

Diusia NU yang ke 100 tahun ini, orang NU biasa juga ikut merayakan.

Mulai dari hadir ke Sidoarjo untuk menghadiri puncak perayaan 1 Abad NU (7 Februari 2023) dengan biaya dari kocek sendiri. Hingga sekedar memasang twibbon “`1 Abad NU” di profil media sosialnya.

Soal visi NU di usia 1 Abadnya, biar para elit NU yang memikirkan. Harapan orang NU biasa, untuk NU di masa yang akan datang, sederhana.

“NU tetap ajeg pada khittah, elit NU kembali ngurus musola, pendidikan serta kemaslahat umum untuk jama’ah. Bukan hanya untuk dirinya”. Itu saja!

0 Komentar