PASUNDAN EKSPRES – Kematian pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di Jakarta pada Kamis (28/8), kembali memicu gelombang kemarahan masyarakat terhadap institusi Polri.
Insiden tragis ini menambah panjang daftar kasus yang membuat publik semakin vokal menyuarakan kritik, baik melalui aksi di jalanan maupun perbincangan di media sosial.
Salah satu simbol perlawanan yang kerap muncul dalam konteks ketidakpuasan terhadap aparat kepolisian adalah angka “1312” atau akronim ACAB (All Cops Are Bastards).
Baca Juga:Kementerian ATR/BPN Matangkan Transformasi Layanan dalam RapimJanji Manis Relokasi Bangunan Liar Ciater Subang
Ungkapan tersebut kini ramai digunakan di berbagai platform seperti Instagram, Facebook, hingga X (Twitter).
Tagar dan simbol perlawanan terhadap tindakan represif aparat terus bermunculan, menandai semakin kuatnya sentimen ketidakpuasan publik.
Secara sederhana, angka 1312 adalah representasi numerik dari kata ACAB, yang diambil dari urutan huruf dalam alfabet (A=1, C=3, A=1, B=2).
Akronim ini digunakan sebagai bentuk protes, kritik, hingga penolakan terhadap polisi. Di banyak negara, simbol ini sering ditemukan dalam grafiti, mural, coretan di tembok, hingga atribut demonstrasi.
Dari Simbol hingga Realitas Ketidakpercayaan
Meski dianggap kontroversial, penggunaan istilah ACAB mencerminkan kenyataan: ketidakpercayaan masyarakat terhadap polisi yang dianggap sering bertindak represif, brutal, atau gagal menjalankan fungsi utama sebagai pelindung masyarakat.
Di Indonesia, simbol-simbol seperti ACAB atau 1312 mulai banyak terlihat sejak beberapa tahun terakhir, terutama dalam mural maupun demonstrasi.
Namun, tragedi terbaru di Jakarta yang menewaskan seorang driver ojol membuat sentimen itu kembali menguat.
Tagar-tagar bernada kecaman terhadap Polri mendominasi linimasa media sosial.
Baca Juga:PDAM Jalancagak Respon Cepat Keluhan Warga dengan Relokasi Pipa di Kampung CileuleuyDPD IMM Jawa Barat Kecam Tindakan Represif Aparat Terhadap Mahasiswa Pada Aksi di Gedung DPR RI
Publik mempertanyakan peran kepolisian yang semestinya melindungi, tetapi justru dinilai melakukan tindakan berlawanan dengan prinsip tersebut.
Banyak warganet menilai insiden ini sebagai bukti nyata semakin jauhnya Polri dari fungsi mengayomi.
Sebaliknya, mereka menilai polisi justru menjadi pihak yang menekan bahkan mengorbankan rakyat yang bersuara.
Sejumlah survei terbaru juga menunjukkan tren menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian.
Kasus kekerasan demi kekerasan, termasuk tragedi di Jakarta, memperlebar jurang ketidakpercayaan itu.
Bagi sebagian orang, simbol 1312/ACAB kini bukan lagi sekadar jargon asing, melainkan representasi nyata dari frustrasi masyarakat terhadap aparat negara.