oleh

Pemkab Dilematis Pemindahan TPA

Warga Tuntut Kompensasi

KALIJATI-Rencana pemindahan TPA Panembong ke Kampung Tenjo Laut Desa Jalupang Kecamatan Kalijati memasuki sosialisasi tahap ke dua. Sosialisasi itu dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Subang Agus Masykur beserta jajarannya di Bale Musyawarah Karang Taruna Tenjo Laut, Selasa (4/2).

Wakil Bupati Subang, yang juga akrab disapa Kang Akur menyampaikan bahwa saat ini Pemkab Subang dalam keadaan yang “maju kena mundur kena”. Pasalnya, darurat TPA Panembong sudah tidak bisa ditolelir lagi hari ini, keadaan sudah benar-benar sangat gawat, sehingga uupaya penundaan pemindahan juga akan berdampak semakin gawat lagi.

“Kalau pemindahan ini kami tunda-tunda, maka itu akan lebih gawat dan bahaya sekali. Namun juga jika kami mau pindahkan di sini kita belum menemukan satu kesepahaman bersama masyarakat. Pemkab ini jadi maju kena mundur kena, dilematis, namun tetap kita harus punya sikap, makanya saya datang ke sini untuk duduk bersama meyakinkan masyarakat Tenjo Laut,” jelasnya.

Dia mengaku jika relokasi TPA adalah persoalan yang populis, bahkan tidak pernah terpogramkan dalam pembangunan Subang era kepemimpinannya bersama Bupati H.Ruhimat. Namun sekali lagi dia kembali menegaskan bahwa ini dalam keadaan darurat, hingga kemudian dirinya bersama Bupati mengaku harus mau tidak mau mengambil sikap demi menyelamatkan hajat orang banyak tersebut.

“Demi Allah saya tidak ada niat sebetulnya, apalagi harus bergesakan dengan masyarakat seperti sekarang ini. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan sudah sangat darurat dan kawasan perkebunan yang kebetulan ada di Kecamatan Kalijati dipilih atas dasar resistensi yang terendah, juga pemberian tanah dari perkebunannya ya di sini,” jelasnya.

Dalam kesempatan sosialisai itu, hadir pula salah satu perusahaan yang mempunyai strategi pengolahan sampah dengan tehnologi tinggi berbasis Catalitic Ektraction Proses (CEP), yaitu dari PT Maha Karya Sinergi yang diwakili oleh Widiyanto.

Dia menjelaskan bahwa hasil pengolahan tersebut akan meghasilkan listrik, karbon diogsa, serta nitrogen yang bisa digunakan sebagai bahan bakar disel. “Dari 500 hingga 700 Ton sampah per hari, baik rumah tangga atau industri, akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 7 megawatt,” jelas Widiyanto.

Sedangkan perwakilan masyarakat, terkesan bisa menerima pada sosialisasi ke dua ini, dengan catatan Pemkab Subang tidak menabrak regulasi atau hukum yang berlaku. Namun sebagian masyarakat seperti Casmita, lebih menuntut komitmen Pemkab Subang pada konpensasi masyarakat sekitar, termasuk kesejahteraan dan lowongan pekerjaan.
“Kalau saya tidak muluk-muluk Pak Wabub sebagai masyarakat saya ikut saja, tapi tolong perhatikan juga dong masyarakat Tenjo Laut, jalan sudah puluhan tahun rusak, ya perbaiki dong, BPJS atau KIS kami juga perhatikan,” pungkas Casmita.(idr/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *