oleh

Jangan Asal, Wisata Harus Perhatikan Unsur Mitigasi

Jangan Dirikan Bangunan di Atas Patahan

LEMBANG-Rencana pembangunan kawasan wisata di jalur Patahan Lembang mendapat sorotan publik. Tak sedikit masyarakat yang gelisah karena rencana tersebut bisa membahayakan jiwa masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Peneliti kegempaan dari Institusi Teknologi Bandung (ITB), Nuraini Rahma Hanifa menjelaskan pembangunan kawasan wisata di jalur Patahan Lembang sah-sah saja selama unsur mitigasi diperhatikan.

“Yang berbahaya mendirikan bangunan percis di atas (sesar). Nah kalau misalkan membangun kolam renang diatas sesar, terus bergerak, kan otomatis airnya melebar kemana-mana,” ungkap Rahma usai Diskusi publik ‘Dimana Sesar Lembang’ yang diselenggarakan Karang Taruna Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Rabu (4/3).

Rahma menerangkan, yang akan lebih membahayakan adalah mendirikan fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, rumah sakit dan klinik di atas Patahan Lembang.

“Terlebih kepada anak-anak sekolah, karena berbicara keselamatan anak, kemampuan keselamatan anak berbeda dengan orang dewasa. Soalnya bangunan sekolah di Indonesia pintunya hanya satu, bayangkan jika harus mengevakuasi murid dengan satu pintu, itukan sangat sulit,” ucapnya.

Oleh karena itu, Rahma mengimbau, sebisa mungkin jangan ada fasilitas umum yang dibangun di zona patahan.

Sama halnya dengan tempat wisata, kalau ternyata akan dibangun hotel di atasnya, sebaiknya rencana itu dibatalkan.

“Apakah dibangun hotel? Nah kalau mau dibangun, jangan. Tapi kalau yang dibuat taman, silahkan saja, toh kalau bergerak gak akan ada yang roboh.

Jadi yang perlu dipikirkan kalau berada di atas sesar, sebisa mungkin jangan sampai ada bangunan, kalau tempat wisata silahkan, apalagi berupa taman karena memang bagusnya dibuat jalur hijau,” terangnya.

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di sekitar zona patahan juga sebaiknya mendirikan bangunan dengan struktur tahan gempa sesuai standar nasional Indonesia (SNI). “Tidak apa-apa membangun di dekat sesar, asal dibangun dengan standar tahan gempa,” katanya.

Saat ini, Rahma melanjutkan, dirinya sedang menghitung besaran pergeseran sesar Lembang menggunakan alat Global Positioning System (GPS) yang dipasang di beberapa titik.

“Alat tersebut digunakan untuk membaca pola pergerakan sesar saat ini seperti apa, hasilnya akan keluar setahun kedepan. Selain kita, ITB juga memasang lebih banyak stasiun pengamatan gempa di cekungan Bandung,” ungkapnya.

Seperti diketahui, sesar atau patahan Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari ujung barat ke timur Bandung, disebut oleh LIPI memasuki siklus pelapasan energi.

Hingga saat ini, para peneliti belum bisa memastikan kapan gempa tersebut akan terjadi. Karena belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa.(eko/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *