oleh

Pelabelan Zona Hitam Pada Peta Persebaran Covid di Surabaya di Nilai Menimbulkan Salah Persepsi Pada Masyarakat

Oleh: Kartika Putri Nandani
(Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Merebaknya virus corona atau covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu hingga sekarang ini belum menunjukan episode terakhir. Penyebaran yang begitu cepat menunjukan peningkatan kurva pasien pada (3/6) sebanyak 28.233 orang positif terkena virus ini dan 1.698 orang meninggal dunia. Meski terus mengalami peningkatan pasien positif, terdapat kabar baik yaitu bertambah pula pasien sembuh sebanyak 8.406 orang.
Berbicara mengenai virus corona tidak ada habisnya, persebaran virus disetiap daerah di negeri ini yang begitu cepat tanpa pandang bulu, menyita perhatian yang mencengangkan dan menjadi buah bibir layaknya Kota Surabaya, yang menjadi penyumbang pasien positif corona terbanyak diantara banyak kota lain di Jawa Timur. Pada selasa (2/6) terjadi sebesar 2.748 kasus positif corona dimana lebih dari setengah pasien positif di jawa timur berada di Surabaya, hal ini yang menyebabkan Surabaya di labeli dengan zona hitam.
Dalam empat hari terakhir terjadi pelabelan pada peta penyebaran covid-19 di Surabaya yang semula berwarna merah berubah menjadi warna hitam. Tetapi pelabelan tersebut mengundang pertanyaan, kenapa Surabaya dilabeli warna hitam?
Pelabelan tersebut sontak mendapat reaksi dari banyak berbagai pihak, karena zona merah yang diterima Surabaya menjadi perbandingan dengan kota lain yaitu DKI Jakarta yang mengantongi pasien positif covid-19 terbanyak ketimbang Surabaya, dan masih melabelkan diri sebagai zona merah.
Gubernur Jawa Timur Khififah Indar Parawansa memaparkan kasus positif di Surabaya lebih dari 2000 kasus tetapi tidak serta masuk zona hitam seperti yang tertera pada peta.Penjelasan mengenai perbedaan warna perlu di jelaskan kepada publik agar tidak menimbulkan salah persepsi, perubahan degradasi warna juga akan terus berubah seiring bertambah dan berkurangnya kasus covid-19, karena tercapainya kasus di angka 2.500 lebih kemarin menjadikan perubahan zona warna yang semula merah menjadi merah tua.
Meskipun terdapat 500 lebih pasien di Sidoarjo yang terjangkit virus corona, tidak serta merta daerah ini berwarna hitam tetapi berwarna merah tua. Oleh arena itu, pelabelan harus didasari dengan teori dan landasan ilmu yang pasti, agar Pemprov Jawa Timur tidak sembarangan saat pemberian label pada sebuah daerah tanpa alasan karena sangat disayangkan Pemkot Surabaya terus bekerja untuk menekan dan memutus rantai virus tersebut
Terkait penangganan covid-19 dibagi menjadi beberapa zona untuk merespon dan menanggapi wabah ini, munculnya empat zona yaitu zona hijau, zona kuning, zona oren, dan zona merah. Pemberian label disetiap daerah tidak asal-asalan, pembagian zona harus praktis disetiap daerah dimulai dari lingkungan, kawasan, kota, kecamatan/kabupaten hingga negara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *