oleh

Potensi Ekspor Jeruk Purut Menjajikan

LEMBANG-Sejauh ini tanaman jeruk purut hanya dianggap sebagai tanaman pelengkap oleh para petani, karena yang dimanfaatkan dari pohon dengan nama latin Citrus Hystrix ini hanya sebatas daunnya saja.
Padahal berdasarkan berbagai literasi, daun dan buah jeruk purut memiliki manfaat bagi kesehatan dan tidak hanya sebatas sebagai bumbu penyedap masakan.
Akan tetapi, kini anggapan itu sudah berubah seiring dengan bertambahnya wawasan para petani, bahwa ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat menjanjikan ke depannya.
Salah seorang petani asal Garut, Jajuli mengatakan, selama ini para petani lebih fokus memanen daunnya saja.
Baca Juga: Pemdes Cikahuripan Tanam Seribu Pohon Jeruk di Jalur Wisata
Belum terpikir bahwa buah jeruk yang tidak dipanennya memiliki nilai ekonomi dan di eropa, dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama Kaffir Lime atau nama lainnya sesuai negara masing-masing dimanfaatkan untuk bumbu masakan.
“Awalnya tidak sengaja karena selama daunnya dipanen terus, tumbuh bunga dan buah yang terus membesar.
Bahkan buahnya dibiarkan dan digratiskan, jika mau tinggal ambil saja karena buahnya berasa pahit dan wereu,” tuturnya, saat menghadiri kegiatan Pelepasan Ekspor Komoditas Sub Sektor Hortikultura Asal Jawa Barat, di PT Momenta Agrikultura, di Cisaroni, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kemarin.
Perspektif petani berubah ketika datang investor yang menawarkan kerjasama menanam pohon jeruk purut dengan sistem plasma. Dimana, seluruh biaya produksi ditanggung perusahaan dan petani hanya menyediakan lahan saja.

20 petani yang sudah menjalin kerjasama dan sudah menanam sebanyak 25 ribu pohon 

Kini, tidak kurang dari 20 petani yang sudah menjalin kerjasama dan sudah menanam sebanyak 25 ribu pohon jeruk purut yang tersebar di daerah Talaga Bodas dan Sagara di Kabupaten Garut.
“Penanaman dimulai sejak dua tahun lalu, saat ini untuk penanaman pertama sebanyak 3 ribu pohon sudah bisa dipanen sekitar 3-4 kwintal per minggunya,” ujar Jajuli.
Jajuli menyebutkan, hasil kesepakatan dengan investor, jeruk purut dibeli dengan harga Rp5 ribu per kilogramnya untuk jangka lima tahun ke depan. Namun harga bisa berobah setelah kontrak habis dan dilakukan negosiasi ulang berdasarkan hasil evaluasi.
“Kalau dari hitung-hitungan sekarang harga segitu sudah masuk akal, petani tidak terlalu menanggung resiko. Penetapan harga juga tentunya berdasarkan hasil analisa,” urainya.
Sebatas sepengetahuannya, pasar jeruk perut sangat menjanjikan untuk diekspor ke negera-negara eropa seperti, Belanda, Prancis, Inggris dan negara lainnya.
Bahkan kebutuhannya sekarang mencapai 5 ton hingga 20 ton dan yang baru terpenuhi sekitar 3 kwintal. “Mudah-mudahan kuantitas ekspor jeruk purut semakin meningkat dan bisa memenuhi kebutuhan pasar di luar negeri,” ujar Jajuli.
Jajuli pun bertekad untuk terus membudidayakan jeruk purut ini. Secara mandiri, dia sudah menanam 1 ribu pohon yang baru bisa dipanen dalam waktu 1 tahun hingga 2 tahun ke depan.
“Kalau dulu pohon jeruk purut hanya sebagai pelengkap, kedepannya bisa menjadi tanaman pokok. Apalagi Garut sudah identik dengan produk Jeruk Garut,” imbuhnya.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Pertanian, sudah ada enam ekportir jeruk purut ke eropa. Harga yang dijual dikisaran Rp130 ribu hingga Rp300 ribu yang disesuaikan dengan kualitasnya.
Pohon jeruk purut sendiri sangat cocok di tanam di tanah dengan ketinggian 800 meter hingg 1.400 meter di atas permukaan laut.(eko/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *