oleh

Siklus Keuangan Koperasi Terganggu, Koperasi Wanita Mekar Saluyu Tetap Bertahan

DAWUAN-Terdampak akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh koperasi wanita Mekar Saluyu. Hal itu diakui langsung oleh Ketua Koperasi Mekar Saluyu, Ny Narti.
Dia mengatakan, beberapa setoran masyarakat tersendat sehingga siklus pemasukan dan pengeluaran terganggu.
“Ya pasti berdampak, cuma tidak terlalu signifikan memang. Tapi ya lumayan lah,” jelasnya
Koperasi Mekar Saluyu, di Kampung Cihuni Desa Jambelaer Kecamatan Dawuan Kabupaten Subang, dikenal sebagai Koperasi yang anggotanya 100 persen wanita.
Baca Juga: Syarat Administrasi Mudah, Warga Pilih Koperasi Simpan Pinjam
Koperasi yang dikelola oleh para ibu rumah tangga ini, juga dikenal dengan kemampuannya bertahan di tengah gempuran perbankan. Yang kini berlomba-lomba membiayai UMKM maupun para rentenir, yang rela masuk ke pelosok mencari korban yang kebanyakan kaum ibu. Namun oleh Covid-19, mereka juga rupanya goyah.
Bendahara Koperasi Mekar Saluyu mengatakan, mulai terganggunya siklus keuangan ketika masyarakat meminjam untuk keperluan hajatan, namun rupanya gelaran hajatann itu sendiri dilarang oleh pemerintah.
“Ya setiap orang pinjam Rp20 juta untuk hajatan sedangkan hajatannya tidak boleh uang sudah terpakai, tidak bisa cepat mengembalikannya ya lumayan juga,” ungkapnya.
Dian mengungkapkan, bahwa uang yang beredar di masyarakat besarannya mencapai ratusan juta berdampak pada pendaftaran masyarakat bulan-bulan ini. Akhirnya Dian bersama pengurus lainnya bersepakat untuk membatasi pendaftaran.
“Iya untuk sekarang dibatasi,” tambahnya.
Mengulas sedikit tentang koperasi wanita Mekar Saluyu ini meski lokasinya berada di tengah-tengah hutan karet dan jalan berlubang serta berlumpur ketika hujan. Kopwan Mekar Saluyu mampu membantu perekonomian masyarakat di wilayah Jambelaer dan sekitar Kecamatan Dawuan.
Kehidupan berkoperasi di wilayah Desa Jambelaer telah mengakar jauh sebelum dibentuknya Kopwan Mekar Saluyu. Sejak tahun 1986 kehidupan berkoperasi dirintis melalui perkumpulan ibu-ibu pengajian di kampung Cihuni yang dipelopori Hj Een Kurniati (Alm) dengan anggota 20 orang dengan modal awal Rp 20.000.(idr/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *