oleh

Tingginya Angka Kematian Covid-19 di Jatim dan Bagaimana Perubahan Penduduknya?

Oleh :Dheta Elvirha Pangestu

( Mahasiswa semester 4, F. Geografi UMS )

Sejak diumumkannya kasus positif terinfeksi COVID-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, berbagai langkah antisipasi untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 telah dilakukan, diantaranya himbauan physical-distancing, pemberlakukan work from home, penutupan pusat perbelanjaan dan tempat wisata, serta pengurangan kepadatan pekerja pada sektor industri. Namun demikian, penyebaran COVID-19 ini ternyata masih terus berlanjut. Salah satunya di Jawa timur dimana angka covid-19 dinyata tinggi dan terbanyak di provinsi jatim hal ini menjadikan banyak perubahan terutama kependudukan dan dampak selama pandemi tersebut.
Area padat penduduk salah satunya berada di Surabaya, Jawa Timur. Dalam kamus demografi sering disebut sebagai hukum keseimbangan atau persamaan berimbang dalam demografi. 3 faktor penyebab kependudukan yaitu kelahiran, kematian, migrasi penduduk, dan kondisi sosil ekonomi dan budaya yang berkembang di masyarakat. Tingginya angka migrasi di jatim mengakibatkan perubahan pada tingginya covid terbanyak di Indonesia hal tersebut yang menjadi masalah yang mengakibatkan perubahan yang sangat besar dan menciptakan ketidakpastian di kehidupan masyarakan, kebijkan yang cocok seharusnya untuk mengisolasi diri dari dunia luar dan ketidakpastian pandemi ini mempengaruhi kekhawatiran pada masyarakat.
Melihat PSBB di Surabaya, salah satunya dengan menyaring orang dari luar daerah juga tidak maksimal. Masih ada orang yang masuk lewat jalur lain. Selain itu, dia menilai payung hukum untuk menghukum pelanggar PSBB juga tidak ada sejak awal hingga fase transisi.
“Artinya pengendalian perilaku kepatuhan itu untuk memtahi protokol kesehatan itu tidak dilakukan. Jadi percuma. Padahal kalau densitas tinggi tidak boleh ada pertemuan orang dengan orang secara masif,” masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan ketika kasus Covid-19 meningkat. Sebab, dia berkata kepatuhan masyarakat tergantung dari pengawasan pemerintah. Beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian di Jatim berjumlah banyak dibanding provinsi lainnya.
Faktor pertama, yakni tingginya jumlah pasien positif Covid-19 yang berasal dari kategori risiko tinggi, yakni pasien lansia, pasien balita dan pasien yang memiliki penyakit bawaan lainnya atau komorbid.
(Covid-19) di Jawa Timur (Jatim) kian tinggi. Jumlahnya bahkan melebihi angka pasien meninggal dunia di DKI Jakarta. Dari data yang didapat tercatat angka kematian di Jatim mencapai 589 kasus, bertambah 14 orang dari angka sebelumnya yang sebanyak 575.
Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan angka kematian di DKI Jakarta sebanyak 548 orang, yang bertambah 8 orang dari angka sebelumnya yakni 540.Faktor yang kedua, kapasitas bed isolasi rumah sakit yang tidak sebanding dengan pertambahan pasien terkonfirmasi Covid-19. Rumah sakit di Jatim, terutama Kota Surabaya disebut telah over capacity.
“Kedua hilir yang tidak siap. hilir itu rumah sakit. Artinya perawatan tidak optimum karena memang kenyataannyah bed di rumah sakit rujukan itu over capacity,” karena kapasitas yang penuh, tak jarang pasien bergejala sedang ataupun berat tidak bisa lagi tertampung dan dirawat di rumah sakit rujukan.
Sejumlah rumah sakit di Jatim khusunya Surabaya mengalami kelebihan kapasitas, lantaran angka pertambahan pasien positif juga sangat tinggi. “Jadi artinya penularan di Jatim terutama Surabaya terlalu tinggi karena tidak semua pasien tertampung. Itu yang menyebabkan besarnya kematian,” Idealnya, setiap rumah sakit rujukan harus menyediakan bed isolasi yang jumlahnya lebih banyak dari pasien yang diperkirakan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *