oleh

Ekspor Tertutup, Perajin Gerabah Maksimalkan Pasar Lokal

PURWAKARTA-Pandemi Covid-19 memberikan imbas yang cukup besar bagi para perajin gerabah keramik di Kecamatan Plered. Tertutupnya keran ekspor, otomatis memutus peluang pasar luar negeri.
Tak ingin menyerah dengan keadaan, para pengrajin pun memaksimalkan pasar lokal. Hasilnya, perlahan tapi pasti, geliat para pengrajin gerabah keramik mulai terlihat.
“Sejak terjadi pandemi Covid-19, otomatis semua pesanan atau pengiriman keramik ke luar negri terpaksa terhenti. Namun, alhamdulilah pesanan dari lokal ramai lagi, dan terus meningkat,” kata Candra (34), salah satu pengrajin keramik Plered saat ditemui Selasa (28/7).
Baca juga: Perajin Dompet Lokal Subang Kesulitan Memasarkan Produknya
Saat ini, sambung Candra, pesanan keramik berasal dari sejumlah pembeli dari berbagai kota di Jawa Barat dan Jakarta, bahkan hingga Bali, terus mengalir.
Pada Umumnya, kata dia, jenis keramik yang dipesan berupa alat rumah tangga hingga hiasan rumah. “Kalau lokal itu kebanyakan kebutuhan rumah tangga dan aksesoris rumah, seperti pot, ulekan, celengan, keperluan taman dan lainnya,” ujar Candra.
Dirinya menambahkan, berbeda dengan pasar luar negeri, umumnya pembeli memesan keramik hias dengan kualitas dan bahan nomor satu, seperti jenis guci serta hiasan atau keramik yang berfungsi untuk pajangan.

Setiap hari pesanan selalu ada untuk pasar lokal

Sementara, pasar lokal lebih ke jenis keramik yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari- hari dan harganya pun lebih ke kelas menengah ke bawah. “Tapi dari pada ke luar negeri nggak ada, mending seperti sekarang, setiap hari pesanan ada saja, seperti ke Jakarta dan kota tetangga lainnya,” katanya.
Senada disampaikan Eman, salah satu pengusaha keramik yang biasa menjual keramik ke pasar luar negri. Dirinya mengaku turut terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, sejumlah pameran atau event pada tahun ini pun terpaksa ditunda.
Padahal, menurutnya, pameran merupakan momen paling ditunggu untuk memasarkan keramik kepada calon pembeli, karena di sana banyak turis yang hadir.
“Di awal tahun saya sudah mempersiapkan diri akan mengikuti pameran pada Maret lalu, tapi ditunda dan saya tidak kirim barang ke luar negeri karena tak ada calon pembeli,” ujarnya.
Dirinya mengaku produksi keramik interior atau barang fungsi dan hias seperti guci yang biasa di ekspor sempat berhenti. Eman pun kemudian membidik pasar lokal untuk sementara agar usaha miliknya tetap produksi.
“Sebetulnya saya kurang paham betul di pasar lokal, tapi situasi saat ini memaksa saya mencoba peruntungan di pasar lokal agar para perajin dapat kembali produksi,” ucapnya.
Eman menjelaskan, sejak pertama kali merintis usaha keramik 1993 baru kali ini merasakan penurunan cukup drastis dalam pasar ekspor. “Dalam satu tahun biasanya ekspor keramik tak kurang dari tiga kontainer,” ujarnya.
Pada tahun ini, Eman tak yakin akan sama seperti tahun sebelumnya meski pemerintah telah memberlakukan new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sebagai upaya untuk memulihkan perekonomian masyarakat.
Namun setidaknya, Eman berharap, diberlakukan AKB, pameran bisa kembali digelar sehingga ekspor keramik juga kembali normal. “Ya semoga saja, secepatnya diberlakukan AKB, maka bisnis keramik juga turut kembali normal,” kata Eman penuh harap.(add/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *