oleh

Desa Wisata Sediakan Hiburan Kearifan Lokal

PURWAKARTA-Desa Wisata menjadi salah satu program Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Istimewanya, jauh sebelum Gubernur Jabar Ridwan Kamil gencar menyosialisasikan program Desa Wisata, Kabupaten Purwakarta justru sudah memulainya.
Adalah Kampung Tajur, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta telah sejak lama menjadi destinasi wisata bagi pelancong yang menginginkan suasana desa yang asri plus mengedukasi.
Bahkan, desa ini pun bisa disebut Desa Ekologi yang turut memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Maka benar adanya pameo yang menyebutkan jika liburan tak melulu soal hiburan. Melainkan, bisa didefinisikan sebagai waktu yang tepat untuk belajar sambil bermain. Dan menciptakan keseruan lain yang tak kalah menghibur.

Sediakan berbagai fasilitas kearifan lokal

Sebagai Desa Wisata, Kampung Tajur menyediakan berbagai fasilitas kearifan lokal yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik pelajar maupun masyarakat pada umumnya.
Pjs Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Agus Koswara mengatakan, wisatawan dapat bermalam di homestay atau rumah warga bernuansa panggung. “Wisatawan juga dapat bercengkrama bersama pemilik rumah sebelum memulai semua aktivitas saat pagi hari,” kata Agus kepada koran ini, Selasa (25/8).
Wisatawan, sambungnya, akan merasakan kearifan lokal yang menjadi rutinitas si empunya rumah. Misalnya, petani maka akan dikenalkan cara membajak sawah, menanam padi, membersihkan area sawah dari rerumputan liar, dan lainnya.
“Kalau peternak, maka wisatawan akan belajar cara mengurus dan memelihara hewan ternak,” ujarnya.
Tak hanya itu, wisatawan juga akan diperkenalkan bagaimana cara menanak nasi di atas tungku perapian. Wisatawan juga akan diperkenalkan cara mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk dalam wadah yang dapat mengerluarkan bunyi-bunyian dengan irama tertentu.
“Tentu wisatawan harus bermalam di sini karena wisata edukasi tidak bisa selesai dalam sehari, minimal tiga hari dua malam,” kata Agus.
Adapun harga sewa homestay Rp200.000-Rp250.000 per malam belum termasuk makan selama berada di Kampung Tajur.
“Sebetulnya pemilik rumah tidak menetapkan tarif, tapi biasanya wisatawan memberikan uang sewa kisaran seperti itu,” ucap dia.
Sementara, salah seorang warga setempat, Asep (47) mengaku wisatawan biasa diajak ke sawah menanam padi atau membersihkan area sawah dari rerumputan liar. Kemudian memasak menggunakan tungku setelah sebelumnya mencari kayu bakar.
“Saya ajak bertani ke sawah karena keseharian saya memang petani. Mereka selalu terlihat antusias,” katanya dia.(add/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *