oleh

Tidak Mengumpulkan Tugas, Ribuan Pelajar Terancam Tak Naik Kelas

CIMAHI-Ribuan pelajar setingkat SD dan SMP se-Cimahi terancam tidak naik kelas pada tahun ajaran 2020/2021. Pasalnya, bermasalah belum menyetorkan nilai tugas selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), akibat dampak pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Disdik), tinggal ada sekitar 520 siswa SD belum menyetorkan tugas kepada gurunya. Sedangkan tingkat SMP jauh lebih banyak yakni sekitar 1.500 siswa yang belum selesai.

“Guru-guru SD sudah mendatangi rumah siswa yang belum menyetorkan tugasnya, tapi sebagian orangtunya tidak ada dengan alasan sudah pindah tempat tinggal dan sebagainya,” kata Kepala Disdik Kota Cimahi, Harjono belum lama ini.

Bagi siswa yang belum mengumpulkan tugasnya, Dinas Pendidikan mengintruksikan para guru membuat surat keterangan yang ditandatangai pihak RT setempat.

Harjono mengungkapkan, permasalahan yang sering dihadapi para guru biasanya orangtua maupun wali tidak berada di rumah. Padahal, pihak sekolah sudah beberapa kali mencoba menghubunginya.

Jika tidak dibereskan pada akhir semester II tahun ajaran 2020/2021, pihaknya khawatir ribuan siswa SD dan SMP tersebut tidak naik kelas karena mereka belum melengkapi nilai.

“Permasalah ini sudah disampaikan melalui surat ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kalau masalah ini tidak segera dibereskan, saya takutnya mereka jadi tidak naik kelas,” tuturnya.

Harjono menerangkan, dari laporan pihak sekolah, ada berbagai penyebab mengapa anak bermasalah tidak mendapatkan nilai. Dari mulai dari tingkat kehadiran selama PJJ sangat rendah, hingga ada anak yang sama sekali tidak mengisi absen.

“Bahkan, saat penilaian dan pengumpulan tugas, ada anak-anak yang melalaikan sehingga para guru tidak memberikan nilai terhadap mereka,” ungkapnya.

Harjono menduga, ada berbagai faktor sehingga ribuan siswa tersebut mengalami permasalahan selama PJJ. Salah satunya, terhambat dalam mengakses teknologi. “Kalau data yang sudah masuk, kebanyakan bermasalah dengan akses internet,” beber Harjono.

Alasan lainnya, anak-anak diduga tidak mempunyai pendamping ketika melaksanakan pembelajaran daring di rumah. “Bisa saja misalnya kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga enggak punya waktu mengajar anaknya, atau alasan lainnya,” tandasnya.

Seperti diketahui, sejak Covid-19 mewabah, aktivitas pembelajaran di sekolah dihentikan sementara. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dialihkan secara online atau daring. Belum diketahui sampai kapan kebijakan ini berlangsung.(eko/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *