oleh

Memaknai Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” Bagian Kesembilan “Eat Pray Love”

Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 34

“Why did I come here, so far away from anyone who cares about me?”

Menurut terjemahan “Mbah Google” kalimat Bahasa Inggris di atas adalah ”Mengapa aku pergi sejauh ini dengan tidak ada satu pun orang yang peduli ? ”. Penulis harus jujur, hanya mengerti secara umum Bahasa Inggris, tanpa presisi. Makanya penulis harus meminta bantuan “Mbah Google” yang tak pernah minta balasan. Walau tak presisi juga. Percis tak presisinya nasib dan kehidupan kita.

Itu adalah kalimat putus asa Elizabeth Gilbert, seorang wanita mapan dari Amerika Serikat (US), yang depresi dengan kehidupannya. Dia mengalami kegagalan dan kebosanan dalam kehidupan karir dan rumah tangganya. Kehidupan mapan di US, dia tinggalkan.

Melakukan travelling ke berbagai belahan dunia. India dia singgahi, Italia dia sambangi. Namun Tak menemukan ketenangan. Hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau kecil di Nusa Tenggara Barat (NTB). Menyewa sebuah gubug bambu seharga beberapa dolar permalam. Setiap hari sejak kedatangannya, Elizabeth Gilbert berjalan-jalan mengelilingi pulau tersebut dari pagi hingga sore.

Hingga hari ke delapan sejak kedatangannya, Liz -panggilan Elizabeth Gilbert, sakit, meriang. Namun tak satu pun manusia yang dia kenal atau mengenal dia. Sehingga keluarlah kalimat putus asa seperti di atas. Seolah sang malaikat maut sudah diambang pintu gubug bambu, siap menjemput ajalnya. Namun tak disangka, bukan malaikat maut yang datang, justru manusia sederhana dan lugu yang mengetuk pintu gubug bambu Liz.

Seorang wanita berjilbab -istri nelayan setempat, yang sering Liz temui ketika dia berjalan menyusuri pulau, datang menengoknya. Tentu setelah dia bertanya ke banyak orang dimana Liz tinggal. Wanita istri nelayan itu khawatir, karena tidak melihat Liz, yang biasa lewat di depan rumahnya.

Setiap pagi dan sore, wanita berjilbab tersebut mempunyai rutinitas, menyambut Liz dengan senyum tulusnya. Wanita itu dan Liz tak mengerti bahasa. Liz tak bisa Bahasa Indonesia, apalagi wanita istri nelayan tersebut, tak tahu Bahasa Inggris. Karena sapaan bahasa tak bisa. Senyum, perhatian dan kasih sayang tulus adalah bahasa kemanusiaan yang pasti dipahami oleh semua makhluk di muka bumi. Itulah yang digunakan wanita berjilbab untuk Liz.

Rupanya si wanita berjilbab tersebut, kehilangan Liz, khawatir Liz sakit. Benar saja, Liz sedang terbaring, meringkuk, meriang, dan muntah-muntah dengan wajah putus asa. Tak tahu dia akan minta tolong kepada siapa. Karena tak satupun yang kenal dirinya. Dan dengan penuh kasih sayang, wanita berjilbab itu merawat Liz sampai sembuh.

Pengalaman mendapat perhatian dan serta kasih sayang tulus, ditulis Liz dalam artikel berjudul “Elizabeth Gilbert’s Life-Changing Story from Indonesia (That You Haven’t Heard) tahun 2006. Mau tahu artinya? Silahkan buka “Mbah Google” atau ambil kursus singkat Bahasa Inggris. Atau tanya Sari Nila Warsono pemeran “Mama Rosa” ibunya Aldebaran dalam sinetron (sinematografi) “Ikatan Cinta”. Sinetron kesukaan “emak-emak” -termasuk Istri penulis. Pengalaman “galau” Liz yang menemukan makna ini, kemudian diangkat menjadi sebuah film “Eat Prat Love”, dibintangi Julia Robert, artis papan atas Hollywood, tiga tahun kemudian dan rilis tahun 2010.

Wanita berjilbab yang menolong Liz, adalah orang Indonesia asli masa kini. Perempuan desa, lugu, dan tulus. Dia tidak mengenal Liz, tak tahu agama Liz dan tak tahu bahasa Liz. Namun wania berjilbab tersebut, dengan tulus menolong Liz. Ya, itulah watak asli Bangsa Indonesia. Penulis yakin, masih banyak manusia Indonesia yang berwatak sama dengan wanita berjilbab yang menolong Liz. Bukan watak culas, mementingkan diri sendiri dan “semau gue”. Tak beradab!

Wanita berjilbab yang menolong Liz adalah gambaran dari nilai-nilai sila kedua ”Kemanusiaan Yang Adi dan Beradab”. Wanita berjilbab itu menunjukkan nilai kemanusiaan dan keadaban terhadap sesama tanpa memandang suku, bangsa, agama dan status sosial. Bermodalkan senyum tulus, empati dan perhatian terhadap sesama, wanita berjilbab itu menunjukkan karakter Bangsa Indonesia kepada dunia.

Adakah kita sudah menjadi “duta” atas sikap kemanusiaan dan keadaban sebagai pribadi? Adakah penguasa, pejabat mulai dari tingkat RT sampai Presiden, birokrat dari kantor lurah sampai istana, pengusaha mulai kelas “teri” sampai kelas “kakap”, orang kaya (boleh dari hasil warisan atau hasil usaha kerja keras yang penting bukan hasil korupsi), orang biasa, atau siapapun dari suku manapun, atau beragama apapun, atau bekerja apapun, yang penting mengaku Bangsa Indonesia, sudah memiliki karakter kemanusiaan dan keadaban seperti wanita berjilbab penolong Liz? Tanyakan pada nurani ketika kita sendiri. Atau pada berita kriminal atau berita korupsi yang sering muncul di televisi. Atau tanyakan pada tetangga atau rekan kerja kita. Mari kita renungkan.

Salam Kang Marbawi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Kisah sangat inspiratif wanita berjilbab yang menurut kang MRB dari Lombok yg sangat tulus membantu dengan tanpa pernah menggarap inbalan itu dilakukan semata-mata ketulusan hati, ini sesui dengan nama tempat dimana cerita ini diangkat yaitu daerah Lombok (yang berarti lurus)Lombok bukan berarti cabe,Trims, sebagian besar dilombok masih tradisi itu dipertahankan dikampung2,tapi entah sekarang zaman sudah berubah maka sipat dan sikap manusia pun berubah, Wallahu a’lam

  2. Bangsa kita memang sudah memiliki karakter sila kemanusiaan yg adil dn beradap akan tetapi scr implikasi dlm pengamalan kondisi nyata blm bisa menerapkan nilai nilai sila tsbut dlm kehidupan sehari hari