oleh

Tanggul Tak Kunjung Diperbaiki, Warga  Pantura Akan Gugat BBWS

SUBANG-Pemerintah Desa Karangmulya bersama warga dan sejumah elemen, kembali melakukan penanganan darurat penahan tanggul di Dusun Mesir Kaler Desa Karangmulya yang kembali merosot. Padahal, tanggul ini telah dilakukan penangan secara manual oleh warga beberapa kali, serta menggunakan alat berat dari Pemda Kabupaten Subang.

“Ini kami sekarang mengorbankan lapangan sepakbola. Tanahnya  kami gunakan untuk dimasukkan ke karung dan menjadi penahan tanah,” jelas Sekdes Karangmulya Komarudin.

Ia mempertanyakan langkah BBWS Citarum yang hingga saat ini dan sejak banjir tahun 2020 lalu masih belum ada penanganan. Padahal sudah beberapa kali dilakuan peninjauan. “Kami harapkan jangan hanya terfokus di Pamanukan, tanggul di sini juga cukup kritis, kami minta BBWS untuk segera memperbaikinya,” ungkap Komarudin.

Sebab jika melihat debit air dan upaya penanganan darurat yang dilakukan oleh warga, tanggul Sungai Cipunagara di Desa Karangmulya terus tergerus dan longsor. Namun saat ini, warga tetap melakukan langkah-langkah secara swadaya dengan memasang rucuk dari bambu dan tanggul dari karung tanah.

“Tapi ini tidak bisa dibiarkan lama dan terus menunggu. Apa perlu kami mengajukan gugatan class action pada BBWS, ini warga juga khawatir dan berang dengan terus dibiarkan seperti ini,” imbuhnya.

Pemdes Karangmulya berharap, BBWS dalam waktu dekat dapat melakukan penanganan tanggul yang terus terkikis karena mengancam pemukiman di Desa Karangmulya jika tanggul jebol serta area persawahan.

Salah satu pemuda Sigit Alamsyah menyampaikan, sebenarnya upaya oleh warga telah dilakukan secara berkali-kali baik secara manual menggunakan rucuk dan ratusan karung berisi batu maupun material lain. Hanya saja, gerusan Sungai Cipunagara ketika tinggi begitu cepat membuat tanggul terus menerus longsor. “Bahkan bambu dan karung berisi material juga akhirnya terbawa,” kata Sigit.

Ia menambahkan, seharusnya BBWS dapat melakukan gerak cepat dan memperbaiki tanggul. Namun hingga saat ini meski telah beberapa kali di survey namun masih belum ada realisasi. “Bahkan dari Desa dan Pemda sudah memulai langkah membuat sodetan,” tambahnya(ygi/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *