oleh

Islam Mengatur Miras

Oleh: Ayu Susanti, S.Pd

 Begitu banyak fakta masalah yang terjadi di negeri zamrud khatulistiwa ini. Salah satunya yang cukup ramai adalah pelegalan miras di negeri ini. Ironi memang, negeri yang sebagian besar penduduknya muslim, namun berusaha melegalkan miras (minuman keras) yang sudah kita ketahui bersama bahwa miras ini adalah hal terlarang. Banyak pihak tentu yang menyayangkan kebijakan ini. Ada juga yang menuai protes.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purwakarta bersikap tegas soal legalisasi minuman keras (miras) yang saat ini sedang menuai sorotaan. Sejak awal sikap PCNU Purwakarta sejalan dengan PBNU yaitu menolak legalisasi miras atau minuman beralkohol (minol). “Kami menolak terhadap rencana legalisasi tersebut. Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu sudah tidak usah diperdebatkan lagi terkait hal tersebut. Karena miras lebih banyak mudharat daripada manfaatnya,” kata Wakil Ketua I PCNU Purwakarta, Dindin Ibrahim Mulyana kepada MNC Portal Indonesia, Senin (1/3/2021). Menurutnya, masih banyak cara yang lebih baik daripada membuat aturan melegalisasi miras  kalau memang yang diharapkannya berupa pendapatan negara. Dia merasa heran dengan kebijakan atau regulasi di Indonesia yang selalu berubah-ubah. Sebab belum lama ini ramai diperbincangkan soal Rancangan Undang Undang (RUU) Larangan Minol. Pihaknya tentu sangat mendukung dengan regulasi yang sudah dibahas di Badan Legsilasi (Baleg) DPR tersebut. (jabar.inews.id)

Miras ini memang banyak menuai masalah. Saat seseorang meminum minuman beralkohol, kesadarannya akan hilang. Dan hal ini bisa jadi akan melahirkan kejahatan-kejahatan lainnya, semisal pemerkosaan, pembunuhan, perampokan dan tindakan kriminal lainnya. Lebih dari itu, bisa jadi banyak korban karena miras ini.

Sebanyak empat orang pemuda tewas usai pesta minuman keras atau miras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kapolres Karawang AKBP Rama Samtama Putra, mengatakan, terdapat tujuh pemuda yang ikut dalam pesta miras. Mereka menenggak minuman keras di sekitar Kampung Bendasari 2, Desa Kondangjaya, Kecamatan Cikarang Timur selama dua hari berturut turut, Senin dan Selasa (1-2 Maret 2021). Dia menerangkan, empat dari tujuh orang yang ikut pesta miras itu meninggal dunia. Sementara, tiga orang lainnya kritis hingga sempat dirawat di rumah sakit. (bekaci.suara.com)

Dari fakta diatas menunjukan bahwa legalisasi miras belum disahkan pun sudah banyak menuai korban, apalagi jika aturan miras ini ditetapkan di negeri ini. Tak terbayang berapa banyak korban lagi yang berjatuhan? Atau semengerikan apa tindakan kriminal yang akan terjadi di negeri ini?

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu kita bisa merujuk pada ayat Allah berikut ini.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum:41).

Dari ayat diatas jelas bahwa penyebab kerusakan di muka bumi ini adalah manusia. Kerusakan ini lahir dikarenakan manusia yang tidak mau diatur oleh aturan Pencipta-Nya, yakni Allah swt. Manusia lebih rela diatur oleh aturannya sendiri yakni sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan. Dalam sistem hidup kapitalisme-sekulerisme semua berlandaskan materi. Apapun yang diperbuat tujuannya adalah untuk mendapatkan materi dan manfaat sebanyak-banyaknya. Begitupun saat memandang pengelolaan miras. Saat melihat penjualan miras ini menguntungkan dan bisa mendapatkan sebuah manfaat maka wajar jika miras ini di legalisasi di negeri ini. Tidak melihat halal haram atau mudhorotnya bagi umat manusia. Jika aturan tersebut menguntungkan maka akan diterapkan. Begitulah standar aturan  sekulerisme. Diambil jika memberikan banyak manfaat.

Beda halnya dengan Islam. Dalam Islam pengaturan halal-haram sudah sangat jelas. Walaupun itu memberikan keuntungan dari segi materi, tapi jika itu adalah suatu yang haram, maka tetap tidak akan dilakukan. Islam adalah aturan yang sempurna dan menyeluruh. Begitupun dalam hal mengatur miras ini. Miras adalah sesuatu hal yang tidak boleh diperjualbelikan.

“Khamr itu telah dilaknat dzatnya, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang membelinya, orang yang memerasnya, orang yang meminta untuk diperaskan, orang yang membawanya, orang yang meminta untuk dibawakan dan orang yang memakan harganya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (2/25,71), Ath-Thayalisi (1134), Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Al-Manhiyaat (hal: 44,58), Abu Dawud (3674)).

Dari sini jelas, bahwa miras tidak boleh untuk dijual belikan. Apalagi dilegalisasi dalam bentuk aturan. Pengaturan miras yang tepat ini tentu membutuhkan institusi yang benar agar bisa menerapkan hukum Allah yang menyeluruh. Sehingga tidak ada lagi kerusakan yang terjadi di muka bumi.

Jika memang kita mau selamat dunia dan akhirat, maka harus kembali kepada aturan Islam yang menyeluruh.

Wallahu’alam bi-showab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.