Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 39 Memaknai Sila Ketiga “Persatuan Indonesia” Tribalisme

Belajar Ringan Filsafat Pancasila
2 Komentar

Bagian ke 3
Oleh: Kang Marbawi

“Mengindonesia, adalah sebuah laku sejarah yang akan terus bergerak tanpa henti. Laku sejarah yang tak pernah selesai”.

Sebut saja “Mang Ro” dan “Mang Re”. Mereka berteman akrab. Mereka sering “nongkrong” bareng di warung kopi langganan mereka. Betah berjam-jam jika sudah ngobrol, dan bergelas-gelas kopi, habis diteguk. Ditemani goreng pisang, ba’wan dan kudapan lainnya, bersemayam tenang di “daerah tengah” yang mampu menampung segala. Termasuk gunung dan laut seisinya. Asal punya hasrat serakah. Cuma tentu bukan tipikal “daerah tengah” Mang Ro dan Mang Re yang orang biasa. Soal bayar, pemilik warung masih bisa kompromi. Toh pengemplang pajak pun dapat ampunan. Hukuman para koruptor saja, bisa dikurangi. Ngutang dulu!

Persahabatan mereka telah bertahun lama. Berbagai isu dan peristiwa nasional dan internasional dari televisi -tv, model lawas, yang nempel di dinding warung kopi, mereka komentari bersama dengan “santuy” dan nada “guyon”. Ala orang pinggiran. Tak politis, tak akademis apalagi sok pinter dengan analisis yang jelimet. Tak ada ketegangan seperti sandiwara talk show di tv-tv. Hanya tawa bersama dan decak prihatin atau umpatan yang keluar dari ekspresi mereka. Sesuai berita yang mereka tonton bersama. Apalagi jika nonton pertandingan sepak bola. Teriakan goal adalah simbol kepuasan dan pelepasan dari himpitan masalah. Kebersamaan natural di warung kopi terasa.

Baca Juga:Penyederhanaan Kurikulum dalam Pembelajaran di Tengah PandemiProgres Capai 96%, Komisi VII DPR Kunjungi PLTGU Jawa-1

Namun ketika ada peristiwa politik, ketegangan mulai muncul dan menyeruak diantara mereka. Apalagi ketika masa perhelatan pemilihan presiden (pilpres) atau pemilihan kepala daerah (pilkada). Mereka berdua dan pelanggan warung kopi lainnya tak jarang terbelah, menjadi dua kelompok berseberangan. Dan untuk menguatkan atmosfir persaingan bahkan menjurus permusuhan, mereka ikut-ikutian memberi julukan tak pantas kepada masing-masing kelompok. “Kucluk” dan “Kentir” atau diksi negatif lainnya, menjadi penanda perseteruan. Maaf istilahnya sangat Jawa Centris. Hal itu lebih karena ketidaktahuan penulis dengan istilah di luar budaya Jawa. Pembaca boleh nambah sendiri sesuai selera dan budaya pembaca. Yang penting jangan digunakan dalam interaksi sosial kita.

2 Komentar