Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 40 Memaknai sila ketiga “Persatuan Indonesia”

Belajar Ringan Filsafat Pancasila
3 Komentar

Bagi Hywel, Romo Magnis, Andre Sumur, Husin Abdullah, juga “bule-bule” lain yang mencintai Indonesia, nasionalisme bukan hanya didasarkan atas jalinan identitas budaya, warna kulit, tanah kelahiran atau kesamaan sejarah dan nenek moyang. Nasionalisme bukan ideologi kebangsaan yang merasa superior atas bangsa lain.  Nasionalisme bukan ideologi seperti Nazi-isme Jerman atau Fasisme Stalin yang menyatakan bangsanya lebih hebat (superior) dari pada bangsa lain. Bukan nasionalisme sempit, kata Soekarno.

Indonesia bukan tanah kelahiran Hywel Coleman, Romo Magnis, Andree Graff, Husein Abdullah dan lainnya. Tapi mereka mencintai Indonesia dengan cara mereka masing-masing.  Mereka rela berkhidmah untuk Indonesia tanpa pamrih. Mereka jatuh cinta kepada Indonesia pada pandangan pertama. Seperti lirik lagu dangdut “Pandangan Pertama” yang dibawakan A.Rafiq tahun 1978 an.

Sama dengan Romo Magnis dan “bule” lain yang mencintai dan menjadi Warga Negara Indonesia, Ahlam Mustaghnimi, perempuan Tunis ini, mencintai Aljazair. Cinta yang direpresentasikan dengan puisi-puisi untuk menggelorakan perlawanan rakyat Aljazair terhadap kolonial Perancis. Puisinya berjudul Min Ajli Huwiyyah menjadi penanda semangat nasionalisme anti penjajahan. Melalui puisinya, Ahlam menyeru rakyat Aljazair untuk belajar mencintai bangsanya sendiri dan berhenti bergantung kepada Perancis. Mereka merepresentasi cintanya dengan nyata.

Baca Juga:Produksi Bagus, Harga Gabah Malah MerosotKitab Kuning Al Hikam Banyak Dipelajari

Tak usah ditanya soal kecintaan rakyat Indonesia kepada tanah airnya. Ratusan ribu nyawa dan harta dikorbankan untuk Indonesia, ketika perjuangan melawan kolonial. Rakyat berjuang dengan caranya masing-masing. Dari dulu hingga sekarang. Sebut saja salah satunya, Ma’ing. Ma’ing alias Ismail Marzuki banyak menggubah lagu nasional yang memiliki aura spiritual. Lagu yang digubahnya adalah hasil perenungan yang dalam dan kecintaan terhadap Indonesia. Ya, lebih dari 100 an lagu yang digubah Ma’ing menjadi melegenda dan tak pernah lekang oleh waktu.

(1)Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
tempat akhir menutup mata


(2) Sungguh indah tanah air beta
tiada bandingnya di dunia

3 Komentar