Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 40 Memaknai sila ketiga “Persatuan Indonesia”

Belajar Ringan Filsafat Pancasila
3 Komentar

Karya indah Tuhan Maha Kuasa
bagi bangsa yang memujanya

Indonesia ibu pertiwi
kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
kepadamu rela kuberi

Ya Ma’ing, menggubah lagu “Indonesia Pusaka” sebagai sebuah penanda dan sekaligus pengingat. Indonesia jaya adalah tujuan bersama sebagai warga negara. Keharuman nama Indonesia ditentukan oleh kita, penulis, pembaca, guru, pejabat, grabber, gojekker,  eksekutif perusahaan, dan segenap warga. Keindonesiaan kita ditentukan oleh kerelaan kita untuk berkorban demi kebersamaan, demi Indonesia. Kerelaan untuk menghidupkan, mengembangkan sikap bergotong royong. Bukan merusak Indonesia dengan sikap tribalisme, koruptif, kesewenangan, keserakahan dan segala tindak manipulatif yang mencederai kemanusiaan. Mencintai Indonesia seharusnya seperti mencintai gadis cantik,hingga mabuk kepayang, lupa segalanya. Seperti gubahan Ma’ing “Panon Hideung” yang terinspirasi dari sebuah lagu Rusia ciptaan R. Karsov.

Indonesia adalah “pusaka abadi”, memupuk nasionalisme untuk melawan tribal society atau hirarki kelompok yang mapan. Tribal society sering kali muncul dan mengalahkan kecintaan kepada Indonesia manakala gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan presiden (pilpres).  Tribal society semakin kuat ketika menggunakan kesukuan primitif dengan politisasi agama, sara, dan produksi hoaxs serta ujaran kebencian.

Baca Juga:Produksi Bagus, Harga Gabah Malah MerosotKitab Kuning Al Hikam Banyak Dipelajari

Ada banyak Ma’ing-Ma’ing lain dari dahulu hingga sekarang. Romo Mangun Wijaya, Gus Dur, Buya Syafii Ma’arif adalah contoh manusia Indonesia yang rela berkorban untuk lingkungannya tanpa pamrih. Yang mencintai Indonesia dengan caranya masing-masing. Seperti Mang Datim, salah seorang tukang kayu yang mencintai Indonesia dengan caranya. Membantu warga sekitar untuk sekedar membantu memperbaiki rumah-rumah tetangga yang rusak. Tanpa pamrih, gotong royong.

Dalam sebuah obrolan ringan dengan Mang Datim, terungkap pertanyaan “apa arti Indonesia bagimu?”. Tentu disampaikan dengan cara sederhana dan tak akademis, apalagi politis. Pertanyaan yang menohok kita. Pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang.

Sering kali kita berkutat dengan pertanyaan untuk kepentingan diri sendiri. “Dapat apa saya?”. “Bagaimana saya bisa lebih maju, kaya, naik jabatan, berkuasa?”. Dan sederet pertanyaan lain yang kadang melahirkan aksis-aksis kolaboratif berbalut keserakahan dan manipulatif. Aksi yang mabuk kepayang, menghalalkan segala cara.

3 Komentar