oleh

Puasa dan Keimanan

 

Oleh : Khotibul Umam, Lc.

Allah Ta’ala perintahkan kita didalam al-Qur’an untuk melakukan puasa dibulan Ramadhan agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa, Ketika kita berbicara tentang taqwa maka haruslah dilandasi dengan keimanan, oleh karna diantara hal yang paling penting didalam agama islam dan amal yang paling agung adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian tetap dalam keimanan tersebut dengan cara menjauhi keyakinan yang rusak, juga perkataan dan perbuatan yang megeluarkan seseorang dari agama islam. Maka barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar tanpa dibarengi dengan keraguan dan juga menghindari perkataan, perbuatan atau keyakinan yang mengeluarkan seseorang dari agama islam, hingga dia meninggalkan dunia yang pana’ ini maka orang tersebut telah selamat dari siksaan api neraka yang kekal abadi.

Kemudian ketika seorang mu’min tersebut yang mengenal Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi setiap perkara yang membatalkan keimanan dan menjalankan setiap perkara yang Allah wajibkan juga meninggalkan setiap perkara yang Allah haramkan. Maka akan mendapatkan kehidupan yang bahagia di dalam kubur juga setelah kehidupan di dalam kubur sampai kekal untuk selamanya, tidak akan pernah merasakan kesengsaraan.

Memang betul bahwa yang namanya nafsu membenci kematian, akan tetapi kematian itu perumpamaannya laksana seperti janin yang keluar dari perut seorang ibu, janin tersebut keluar dari sesuatu yang sempit menuju sesuatu yang lapang.

Begitu juga seorang yang telah meninggalkan dunia adakalanya dia mendapatkan tempat yang tenang, nyaman dan luas, atau malah sebaliknya dia mendapatkan tempat yang sempit dan penuh kesengsaraan.

Maka tidak ada seorangpun yang selamat dari siksa Allah kecuali dengan menempuh jalan ini, dengan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang benar tanpa dibarengi dengan keraguan. Inilah keimanan yang akan bermanfaat bagi segi seseorang bagi didunia dan diakhirat.

Adapun orang yang ragu-ragu dengan keimanannya sekalipun tidak diketahui oleh manusia, maka orang itu menurut Allah bukanlah seorang mu’min, jadi kalo seandainya demikian hendaknya perhatian seseorang dikerahkan untuk tetap menjaga keimanan dan aqidah. Juga menjaga lisan dari melontarkan perkataan yang mengeluarkan dia dari agama islam, dan juga menjagaan seluruh anggota badannya dari melakukan perbuatan yang mengeluarkan dia dari agama islam.

Oleh karena keimanan dan keislaman merupakan bentuk nikmat Allah yang paling besar, jika demikian, mari kita jaga keimanan tersebut dari sesuatu yang membatalkannya, karna diantara syarat diterimanya amal shaleh, seperti shalat, puasa, zakat adalah aqidah (keyakinan) yang benar.

Orang yang Allah berikan iman, sekalipun tidak Allah berikan dunia pada hakikatnya orang tersebut telah diberikan segalanya, tapi sebaliknya orang yang Allah berikan dunia dengan segala  isinya akan tetapi tidak diberikan iman, maka pada hakikatnya orang tersebut tidak diberikan apapun.

Semoga Allah tetapkan kita dalam islam, dan matikan kita dalam keadaan islam, Aamiin.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.