oleh

Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Naik Bukti Gagalnya Sistem

Oleh: Elin Marlina, A.Md.

 

Lebih dari satu tahun dunia belum lepas dari pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia, berdampak ke berbagai sektor termasuk industri. Di Kabupaten Bandung pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bertambah. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung Rukmana, mengatakan bahwa tahun 2020 menjadi persoalan serius terkait tenaga kerja. (ayobandung.com 14/04/21)

Angka pengangguran naik dari 5% menjadi 8% yaitu sebanyak 45.000 orang. Peningkatan angka pengangguran tersebut sebagian besarnya dikarenakan pengurangan karyawan pada sektor industri.

Satu sisi pemerintah memperkirakan pada kuartal satu tahun 2021 pertumbuhan ekonomi ada pada kisaran minus 1% hingga minus 0,1%. Proyeksi ini dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan posisi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020, yaitu minus 2,07%.

Idealnya Pertumbuhan ekonomi mesti seiring dengan berkurangnya pengangguran. Akan tetapi ternyata tidak seperti itu, pertumbuhan ekonomi tidak berimplikasi terhadap semakin tersedianya lapangan kerja bagi rakyat. Yang sudah bekerja pun malah kena PHK, apatah lagi yang belum bekerja.

Sulitnya lapangan kerja bisa difahami, karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekular. Tersedianya lapangan kerja diserahkan kepada para kapital/pemilik modal. Lebih miris lagi pengangguran di dalam negeri kian bertambah sementara tenaga kerja asing terus berdatangan. Belum lagi masalah TKW yang rentan masalah. Kalaulah di dalam negeri lapangan kerja cukup tersedia, tidak mungkin harus terbang ke negeri orang dengan mengorbankan keluarga.

Pertumbuhan ekonomi berhenti pada angka-angka tidak berimplikasi kepada kesejahteraan rakyat. Meskipun pertumbuhan ekonomi diklaim relatif membaik, tapi pengemis, pedagang jalanan, pemulung bertambah banyak. Ekonomi kapitalisme hanyalah menawarkan ilusi tidak mampu menemukan solusi. Jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin menganga.

Pendapatan Domestik Bruto (PDB) adalah hasil dari jumlah pendapatan keseluruhan dibagi jumlah orang. Maka yang dihasilkan adalah nilai rata-rata. Kalau nilai rata-ratanya tinggi berarti ekonomi tumbuh, walaupun sebagian masyarakat hidupnya bertambah susah. Apalagi selama pandemi kesulitan hidup semakin dirasakan masyarakat kecil, bekerja susah, harga kebutuhan hidup semakin mahal, tapi ada sebagian pengusaha tertentu  pendapatannya malah bertambah berlipat-lipat.

Maka dari itu sistem ekonomi kapitalis sebagai turunan dari sistem kapitalis sampai kapanpun tidak akan mampu menciptakan pemerataan serta menuntaskan masalah kemiskinan kecuali menghasilkan ketimpangan. Tidak akan mampu menyediakan lapangan kerja maksimal kecuali sangat minimal.

Islam memiliki formula komprehensif dalam persoalan serapan tenaga kerja. Diawali dari konsep tentang kepemilikan; ada kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Yang terkategori kepemilikan negara dan kepemilikan umum, syariat menentukan tidak boleh pengelolaannya diserahkan kepada swasta apalagi asing, tapi harus dikelola oleh negara, sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Begitu pula dengan akses modal, Daulah Islam dengan baitul maal nya akan terjun langsung menyalurkan bantuan modal tanpa riba bahkan dapat berupa hibah terhadap orang-orang di usia produktif. Maka masyarakat mempunyai akses ke pergerakan ekonomi. Selanjutnya negara tidak akan memberlakukan kegiatan ekonomi non riil yang mengandung riba, seperti bursa saham, valas dan yang lainnya. Seluruh kegiatan ekonomi hanya bergerak di sektor riil sehingga cadangan modal yang tersedia akan mendorong produktifitas.

Dalam Islam ada satu orang saja yang kelaparan merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh Daulah Islam. Begitupun kalau didapati ada yang malas bekerja bagi penanggung nafkah yang merupakan kewajibannya, maka Daulah Islam akan segera mengambil tindakan agar segera menjalankan kewajibannya mencari nafkah atau bekerja. Hal ini pernah ditemukan di masa Khalifah Umar bin Khaththab, ketika beliau menemukan laki-laki yang sedang berdzikir di mesjid padahal sudah waktunya bekerja maka beliau menasihatinya kemudian mengusirnya dari mesjid.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *