oleh

RSUD Belum Bendera Putih

PANDEMI Covid-19 ini banyak membuat orang panik. Panik karena tertular, panik karena bangkrut, panik karena sulit mencari obat, panik karena sahabat, orang dicintai satu per satu isolasi atau bahkan pergi untuk selamanya.

Beda dengan orang biasa, paniknya seorang direktur rumah sakit tentu sangat campur aduk. Saya membayangkan hal itu dirasakan dr. Ahmad Nasuhi, Direktur Utama RSUD Subang. Panik saldo keuangan RSUD menipis, stok oksigen menipis, perawat dan tenaga kesehatan banyak yang terpapar virus, dan bahkan dokter Ahmad sendiri juga terpapar.

Saat menghubungi saya, dokter Ahmad tengah menjalani isolasi mandiri. Sama seperti saya. Ia pun menceritakan beberapa kepanikan dan beberapa solusinya. Untungnya, beliau masih bisa berfikir jernih. Hanya sedikit kurang leluasa. Ia tidak bisa bergerak karena harus isolasi mandiri.

Saya agak bingung, mengapa dokter Ahmad sampai harus nelpon saya. Ternyata juga panik karena ada berita yang menyebut anak buahnya meminta uang kepada keluarga pasien Covid untuk pemulasaraan jenazah Covid-19.

Kontan dokter Ahmad marah dan melakukan cek sana- sini. Termasuk kepada ‘komandan’ kamar jenazah RSUD. Sebab, pengurusan jenazah itu gratis. Tidak dipungut biaya kepada keluarga korban. Semua disubsidi negara. Bahkan honor petugas pun sudah diakomodir Pemda. Disediakan insentif khusus. Sudah ketemu solusinya.

“Walau memang honor mereka belum cair. Ini dicover anggaran Pemda. Bupati sudah menyetujui mereka dapat insentif khusus. Kalau dari pusat itu tidak ada. Mereka bukan Nakes. Dokter aja tidak semuanya dapat insentif, tidak semua menangani Covid,” jelas dokter Ahmad.

Selain pengurus jenazah, tenaga non medis lainnya yang mendapat honor yaitu petugas yang membersihkan alat-alat di rumah sakit. “Semua kita coba perhatikan, alhamdulilah dapat. Tapi sabar dulu, ini semuanya belum ada pembayaran. Klaim kita ke pusat juga belum ada pencairan, maka kita ajukan dapat dana tidak terduga,” sambung dokter Ahmad.

Panjang lebar dokter Ahmad menceritakan penanganan medis. Saya sudah membaca berita dari media nasional yang menyebut adanya pungutan biaya untuk jenazah Covid. Tapi rupanya itu semua bermula dari klinik yang menangani pasien Covid-19. Padahal seharusnya hal itu tidak dilakukan. Sebab klinik fasilitasnya terbatas.

“RS PTPN aja tidak berani. Ini ada klinik berani merawat pasien Covid. Saya memaklumi, ini karena ada kabar bahwa RSUD penuh, pasien enggan ke RSUD. Padahal, kami belum menyerah. Belum bendera putih. Tidak ada yang kami tolak, hanya kami suruh menunggu kalau lagi penuh ruangannya. Biasanya siang, sore atau malam ada yang pulang. Lalu pasien yang ada masuk. Kan begitu,” jelas dokter Ahmad.

Dokter Ahmad berharap, masyarakat memahami bahwa RSUD Subang tidak sepenuhnya seperti isu yang beredar luas di masyarakat. Meski terjadi lonjakan dan RS kewalahan, tapi jangan pula ada klinik yang sembarangan menerima pasien Covid. Sebab harus ditangani dengan serius.

“Media juga jangan hanya menyampaikan yang mengerikan. Kami belum menyerah. Selama oksigen masih ada. Ruangan masih ada. Kan biasanya yang pulang itu bergiliran. Bahkan oksigen itu kami ambil sendiri. Saya sewa mobil. Tidak lagi menunggu dikirim. Kalau sudah tidak ada nakes, tidak ada oksigen, kami mungkin menyerah. Saya tegaskan kami belum menyerah. Tidak ada pasien yang kami tolak,” dokter Ahmad kembali menegaskan.

Menurutnya, klinik yang tidak kompeten menerima pasien Covid itu berbahaya. Sebab persediaan oksigen harus memadai juga tenaga medis yang terlatih. Selain itu, harus ada ruangan khusus dan perlintasan yang berbeda dengan pasien lain.

“Nah giliran pasien ini meninggal. Mereka kan belum dilatih, bagaimana pemulasaraan jenazah. Ini awalnya. Maka kami berharap Dinkes mengawasi dan menindak klinik yang tidak kompeten menangani pasien Covid. Ini berbahaya,” tandasnya lagi.

Saya memahami bagaimana paniknya dokter Ahmad. Kepanikannya bukan hanya masalah tudingan pungutan uang pemulasaraan, jauh lebih besar yakni bagaimana agar pasien Covid tertangani serius. Ia gusar ada dokter dan klinik yang berani menangani pasien Covid sembarangan. Padahal tidak tidak kompeten. Sebab itu akan merugikan pasien. Memperburuk penanganan Covid.

Dari uraian dokter ahmad itu, saya pun sedikit lega dengan Langkah-langkah taktis yang diambil manajemen RSUD. Misalnnya:

-Mengamankan stok oksigen–ambil sendiri, sewa mobil

-Keuangan menipis—ajukan dana BTT, disetujui Rp2 miliar

-Perawat banyak terpapar—ajukan pengangkatan tenaga medis, sudah mulai bekerja sebanyak 70 orang

-Menyediakan 150 bed untuk pasien Covid-19

-Tidak menolak pasien Covid-19

Di tengah kedaruratan, di tengah kepanikan, semoga dokter Ahmad segera sembuh. Kembali memimpin menghadapi kedaruratan wabah ini. Untuk Dinas Kesehatan, saya berharap melakukan pengawasan lebih serius untuk klinik dan praktik dokter. Kabarnya klinik yang tidak kompeten juga sudah dipanggil dan diingatkan. Agar pasien Covid tidak dirawat sembarangan. Juga sebaiknya Dinkes terus memberikan edukasi kepada masyarakat yang lakukan isoman.

Yang terpenting juga upaya massif untuk vaksinasi Covid-19. Sampaikan tahapan target vaksin dan tracing lebih massif. Semoga kita mampu melewati semua kondisi darurat ini. Amin.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *