oleh

Direktur Gardiklat: Id Adha adalah Pengorbanan Untuk Kemanusiaan

SERANG– Melaksanakan keteladanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. menjadi titik tolak dari Id Adha atau hari raya qurban. Keteladanan tersebut adalah kemauan untuk berkorban demi kepentingan bersama umat manusia. Apalagi di masa Pandemic Covid-19 seperti sekarang.
“Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari Idh Adha pada tahun ini adalah belajar untuk berkorban untuk kemanusiaan, berkorban untuk kepentingan bersama umat manusia,” kata Direktur Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Gardiklat) BPIP, Drs. H Sahlan Masduki, MSi.ketika menjadi khatib Id Adha Selasa pagi (20/7) kemarin.
Khutbah Id Adha yang dilaksanakan di komplek Masjid At Tirmidzi, Pesantren Darul Irfan, Kota Serang Banten tersebut, menerapkan protokol kesehatan ketat. Dan hanya diikuti oleh santri Pesantren Darul Irfan dan keluarga pesantren.
Menurut Sahlan yang pernah menjadi Asisten Deputi Bidang Keagamaan di Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini, dalam prakteknya pengorbanan kepada kemanusiaan adalah dengan cara memberikan kegemberiaan yang melahirkan kebahagiaan kepada orang-orang disekitar kita. Pemberian daging kurban kepada tetangga bahkan termasuk pemberian zakat ketika Id Fitri adalah bagian dari pembelajaran berkorban untuk sesama. Dimana dampaknya tetangga disekitar kita akan merasakan kegembiraan atas kurban dan zakat tersebut.
“Hari raya, kita niatkan untuk membantu sesama, meringankan beban saudarasaudara kita, agar dapat menghilangkan kesedihan mereka. Jika tidak mampu, maka dengan ucapan-ucapan yang indah yang dapat menghibur hati mereka, dengan sapaan dan senyuman yang tulus kepada mereka serta lantunan doa untuk kebaikan mereka,” jelasnya.
Hari raya sejatinya adalah hadiah besar, bonus bagi hamba yang telah melakukan puncak ketaatan dan penghambaan kepada Allah ta’ala, Idul Adha merupakan refleksi dalam menjalankan rukun haji yang paling utama, yaitu wukuf di Arafah.
Ajaran Islam tidak berhenti disitu, Islam juga mengajarkan untuk bersadaqoh setiap saat, agar kita bisa berbagi kegembiraan kepada sesame, tidak hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sehingga ada sirkulasi pemertaan aliran rizki dari kaum yang kaya kepada kaum dhuafa, hal ini sesuai firman Allah: “……. hendaklah harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu…….” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7).
“Ini mengandung makna, dalam Islam ada kewajiban untuk melakukan distribusi kekayaan dan pemerataan dari para aghniya/konglomerat dengan melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Islam melarang terkumpulnya kekuatan ekonomi hanya pada satu kelompok orang. Islam mengajarkan adanya distribusi kekuatan ekonomi. Hal ini agar ada keseimbangan dan distribusi kesejahteraan dan kesempatan untuk setiap orang berperan dalam penguatan ekonomi umat.
Setelah Solat Id, khotbah Idul Adha selesai di tutup dengan saling memaaf kelurga besar Darul Irfan dan jamaah, tanpa berjabat tangan dan bersentuhan. Selanjutnya diteruskan dengan Pemotongan Hewan Qurban, yang di bagika untuk santri, masyarakat sekitar pesantren. (rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *