oleh

Sita Eksekusi Pabrik Tua Batal

BUPATI-Pelaksanaan sita eksekusi atau executorial beslag terhadap bidang pabrik tua bekas penggilingan beras dan lahan seluas hampir 7 hektare di Pusakanagara batal. Pembatalan sita eksekusi diduga karena alasan PPKM.

Disisi lain, pihak pelawan dalam gugatan verzet yakni dari PT NV Penggilingan Beras dan Industri Sukadjaja hadir bersama kuasa hukum, petani penggarap serta pihak BPN. Sedangkan pihak pengadilan serta terlawan tak hadir.

Kuasa Hukum PT NV Tommy Santosa mengatakan, pelaksanaan sita eksekusi tersebut merupakan suatu tindakan pengamanan oleh pengadilan atas putusan d nomor perkara: 25/Pdt. G/2020/PN SNG.

“Sita eksekusi ini batal dilaksanakan. Selain kami juga sudah mengirim surat penolakan, ini juga sedang PPKM. Pada akhirnya kami mendapat kabar bahwa kegiatan sitra eksekusi hari ini dibatalkan. Tidak tahu kapan akan dilaksanakan laginya,” ucap Tommy pada Pasundan Ekspres, Kamis (22/7).

Sementara itu, terkait gugatan perlawanan (verzet) yang diajukan atas putusan nomor 25/Pdt. G/2020/PN/SNG tersebut saat ini telah ada putusan pada 17 Juni lalu.

“Putusannya adalah di Niet Ontvankelijke Verklaard (NO) atau yang biasa disebut sebagai putusan NO, merupakan putusan yang menyatakan gugatan tidak dapat diterima, karena mengandung cacat formil,” kata Tommy.

Atas putusan tersebut, pihaknya telah mengajukan upaya banding pada Pengadilan Tinggi Bandung. Sebab pihaknya masih berkeyakinan dan mencari keadilan atas bukti-bukti yang ada.

“Berkasnya sudah diterima disana dan kami juga sudah melampirkan bukti baru. Kita tunggu disana dan mungkin akan memakan waktu hingga 4 bulan sampai nanti ada putusan,” tambah Tommy.

Sebab, meskipun telah ada putusan atas gugatan perlawanan, pihaknya menilai kejanggalan tersebut masih ada. Baik dari dokumen pembuktian serta bukti sertifikat yang dikeluarkan oleh BPN atas Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), yang baru saja di perpanjang oleh PT NV hingga 2037 mendatang.

“Batas-batas juga masih tidak jelas. Lalu data luas lahan juga tidak sama. Banyak kejanggalan. Makanya, kami juga ajukan  banding sebagai bagian dari proses hukum yang akan terus ditempuh,” imbuhnya.

Sebelumnya, pabrik tua bekas penggilingan beras dan lahan seluas hampir 7 hektare di Pusakanagara, menjadi sengketa hingga berlanjut ke Pengadilan Negeri Subang. Padahal penggugat lahan Siti Kusmirah Acke Faber hanya bermodal dokumen Iuran Pembangunan Daerah (Ipeda), yang sudah tidak berlaku lagi. Sedangkan tergugat memiliki Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang masih berlaku. Tak hanya itu, SPPT objek pajak lahan tersebut tiba-tiba berubah. Diduga ada oknum bekas pejabat Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Subang terlibat.

Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas kepemilikan tanah seluas 6,9 hektare PT NV digugat Siti Kusmirah dimenangkan oleh PN Subang. Padahal cuma modal dokumen Ipeda.

Padahal, Didi Wjaya atau PT NV Penggilingan Beras dan Industri Sukadjaja, telah memiliki Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 7 dan 8 yang masa berlakunya hingga 2037, setelah diperpanjang pada tahun 2017 lalu.(ygi/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *