oleh

Nilai Gubernur Tak Peduli Kesenian, Seniman dan Budayawan Bentuk Petisi C-19

KARAWANG-Seniman dan Budayawan Jawa Barat (Jabar) yang guyub dalam Akar Seni Jabar, menyampaikan Petisi C-19 kepada Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Hal tersebut karena Gubernur yang akrab disapa Emil itu dianggap tidak memperhatikan kesenian dan kebudayaan.

Penggiat Wayang Jabar, Adit Runa mengatakan, Akar Seni Jabar merupakan wadah dari para seniman dan budayawan di 27 kabupaten/kota di Jabar. Berbagai keluhan yang disampaikan para seniman menghasillan Petisi C-19.

“Melalui Petisi C-19 ini kami bukan mengajak berperang, tapi mengajak Gubernur Ridwan Kamil untuk melek terhadap kesenian Jabar. Mari bersama-sama kita melestarikan serta mengembangkan kesenian-kesenian asli dari Jabar,” ujarnya.

Ia mengusulkan adanya program Gubernur Jabar berupa sistem yang terhubung dengan  OPD-OPD yang menaungi seni dan budaya di kabupaten/kota se Jabar. Hal itu dianggap perlu agar adanya keseragaman pemahaman tentang seni dan budaya di Jabar.

“Yang kami rasakan, yang menjadi kemerosotan nilai-nilai seni dan kebudayaan di Jabar itu, karena kurangnya kesepahaman. Jika ada sistem ini, nantinya siapa pun kepala daerahnya, kebijakannya terkait seni dan budaya tidak akan berubah-ubah,” paparnya.

Adit menambahkan, pihaknya juga sangat menyayangkan karena Pemprov Jabar tidak memanfaatkan amanat Undang-Undang Kemajuan Kebudayaan secara maksimal. Salah satunya ketersediaan anggaran di Pemerintah Pusat sebesar Rp5 triliun yang tidak diserap oleh Jabar.

“Kami sangat menyayangkan karena hanya Jabar yang tidak menyerap anggaran Rp5 triliun untuk kemajuan kebudayaan dari pusat ini,” kata dia.

Sehingga, lanjut Adit, pihaknya mengajak Pemrov Jabar untuk bersama-sama membentuk sistem serta statistik seni budaya di Jabar. “Petisi C-19 ini menggedor birokrasi untuk yuk duduk bareng kita sama-sama untuk membentuk sistem ini,” ungkap dia.

Ia menyebut masalah ini bukan hanya terjadi saay Ridwan Kamil memimpin Jabar. Namun, sejak era Emil menjadi Gubernur, kesenian dan kebudayaan semakin tidak tersentuh. “Maka kami mempetisi supaya ada pintu keterbukaan untuk mengapresiasi pekerjaseni serta mengeksekusi bareng-bareng,” tandasnya.(use/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *