oleh

Gus Ahad: Maknai Tahun Baru Islam dengan Mengharap Rida Allah SWT

PURWAKARTA-Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Ir. H. Abdul Hadi Wijaya, M.Sc memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharam 1443 Hijriyah dengan mengharap rida Allah SWT.

“Pergantian tahun menggambarkan salah satu sifat dari semua makhluk ciptaan Allah SWT. Ada awal ada akhir. Ada siklus dari satu kondisi ke kondisi berikutnya. Demikianlah hakikat kehidupan,” ujar Politisi PKS yang akrab disapa Gus Ahad ini saat dihubungi, Rabu (11/8).

Maka, lanjutnya, sebaik-baik seorang hamba adalah mengharap rida Allah SWT. Baik untuk masa yang telah berlalu maupun untuk tahun yang akan datang.

“Saya haturkan selamat memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam 1443 Hijriah. Semoga tahun yang akan datang memberikan banyak keberkahan, kemajuan, dan kebaikan yang berlipat ganda untuk kita semua,” kata Gus Ahad yang dikenal tegas tapi ramah ini.

Legislator dari Dapil Karawang – Purwakarta pun mengajak masyarakat menyambut Tahun Baru Islam dengan optimis. “Mari kita jelang tahun yang lebih baik, untuk bangsa yang lebih baik, dan untuk dunia yang lebih baik,” ucapnya.

Senada disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPD) PKS Purwakarta Hasan Sobari Lc. Ustaz Hasan menyampaikan, sejarah mencatat manusia pertama yang berhasil mengkristalisir hijrah nabi sebagai event terpenting dalam penanggalan Islam adalah Sayidina Umar bin Al Khattab.

Hal ini terjadi pada tahun ke-17 sejak hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Pada saat itu, Sayidina Umar bin Al Khattab menjabat sebagai Khalifah. Namun demikian, Sayidina Umar sendiri tidak ingin memaksakan pendapatnya kepada para sahabat nabi.

“Ada yang menginginkan sistem penanggalan Islam berpijak pada tahun kelahiran Rasulullah. Ada juga yang mengusulkan, awal diresmikannya Muhammad Saw sebagai utusan-Nya lah yang merupakan waktu paling tepat dalam standar kalenderisasi,” kata Ustaz Hasan.

Bahkan, sambungnya, ada pula yang melontarkan ide akan tahun wafatnya Rasulullah Saw, sebagai batas awal perhitungan tarikh dalam Islam.
Walaupun demikian, nampaknya Sayidina Umar r.a. lebih condong kepada pendapat Sayidina Ali yang meng-afdalkan peristiwa hijrah sebagai tonggak terpenting ketimbang event-event lainnya dalam sejarah Islam.

“Yakni relevan dengan klaim beliau, membuat penanggalan berdasar pada Hijrah Rasulullah Saw, adalah lebih karena hijrah tersebut merupakan pembeda antara yang hak dengan yang batil. Di mana peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 1 Muharam, bertepatan dengan 16 Juli 622 M, hari Jumat,” ucapnya.(add/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *