oleh

Pembantaian 500 Ribu Penyihir

MEMANGNYA penduduk di benua hitam Afrika saja yang primitif. Tidak. Semua bangsa pernah berada di era primitive. Termasuk bangsa Eropa. Mereka pernah berada di masa kelam ‘abad kegelapan’. Menyisakan trauma hingga saat ini.

Di antara perilaku sadis bangsa Eropa adalah memburu dan menyiksa para penyihir. Mereka disiksa dan dibakar hidup-hidup. Parahnya lagi, mereka belum tentu penyihir. Otoritas gereja sebagai pemegang hak veto kebenaran saat itu, merestui ‘operasi’ pembantaian itu.

Para sejarawan dan peneliti mencatat, ada sekitar 500 ribu penyihir yang dibunuh oleh masyarakat maupun otoritas negara pada abad pertengahan di Eropa. Mendapat dukungan dari gereja sebagai upaya membersihkan pemahaman masyarakat. Menjaga keimanan terhadap agama. Tapi peneliti menemukan fakta mengerikan.

Peneliti Erik Midelfort menemukan fakta pembunuhan terhadap 1.258 penyihir di Jerman Barat pada tahun 1562 hingga 1684. Sebanyak 82 persen di antaranya adalah penyihir perempuan. Para penyihir itu dituduh telah bersekutu dengan setan, terbang menggunakan sapu di malam hari untuk menghadiri pertemuan sabbat.

Yaitu pertemuan dengan para penyihir untuk menggelar ritual pemujaan setan. Mereka pula dituduh biang kerok penyebab gagal panen gandum. Maka para petani amat membenci mereka dan tak segan membakarnya hidup-hidup.

Masalahnya, apakah benar mereka penyihir? Bisa terbang menggunakan sapu untuk pertemuan sabbat? Cerita mistis seringkali menjadi bumbu dan muncul dalam pengakuan saat penyiksaan para penyihir.

Tapi pengakuan saat penyiksaan penyihir adalah satu keganjilan yang patut dicurigai. Mereka biasanya disiksa untuk agar mengakui telah bersekutu dengan setan. Jika tidak mengakui hukuman makin berat.

Tangan diikat ke atas, diangkat dengan kaki diberi beban berat. Jika tidak mengakui maka beban akan ditambah, menjerit-jerit akhirnya mengakui. Lalu diminta menyebutkan nama, siapa saja yang telah hadir di pertemuan sabbat. Dalam kepayahan maka disebutkanlah nama yang terlintas di pikiran. Sudah pasti itu hasil imajinasi karena keterpaksaan.

Jika tidak mau mengakui, akan diperberat hukumannya. Siksaan sadis seperti penghancur jempol kaki disiapkan para algojo. Kabar itu akan menyeruak ke seluruh penjuru kota dan pedesaan. Beberapa orang tiba-tiba disebut namanya dan nama yang disebut akan dicari, lalu menerima siksaan yang tidak terperi.

Gereja menganggap praktik sihir adalah perilaku kotor di bumi yang harus dihapuskan. Suatu tindakan ‘sub-versif’ atas otoritas gereja. Di sisi lain, saat itu tengah menyeruak gerakan perlawanan terhadap gereja. Mulai terasa pula gerakan protestan.

Penyihir dianggap menjadi biang kerok segala kegagalan. Warga miskin meyakini bahwa kemiskinannya karena tukang sihir. Panen gagal, gandum layu, bayi mati, anggur jadi masam, harga roti mahal, lapangan kerja jarang? Semua itu pekerjaan tukang sihir!

Lalu benarkah tukang sihir itu ada? Apakah mereka benar-benar terbang menggunakan sapu?

Buku karya Institor dan Sprenger, The Hammer of the Witches dapat menjadi panduan untuk memahami praktik sihir. Dalam buku itu dijelaskan bagaimana tukang sihir diseret ke pengadilin, disiksa, didakwa dan dihukum.

Profesor Michael Harner menemukan fakta mencengangkan, bahwa praktik tukang sihir berkaitan dengan penggunaan salep halusinogen. Akan merasakan sensasi ‘terbang’ dengan sapu setelah sebelumnya meminyaki diri dengan salep. Sebelum hadir dalam pertemuan sabbat, mereka mengurapi diri dengan salep pada bagian dahi dengan bulu-bulu. Lalu melumurkannya pada sapu dan menaikinya.

Menurut pengakuan tukang sihir yang diungkap Harner, mereka meminyaki tubuh dan pada bagian bawah badan berambut seperti ketiak, lalu mengucapkan kata-kata tertentu. Seketika ia tak sadarkan diri dan akan merasakan halusinasi bercumbu dengan setan, bersekutu dengan iblis serta pengakuan mengejutkan.

Adres Laguna, seorang dokter abad ke-16 mengungkapkan, balsam tukang sihir itu terdiri dari rempah-rempah yang dingin, menyebabkan ngantuk. Diracik dari tanaman cemara, hemlock, terung-terungan, henbvane dan mandrake.

Perburuan terhadap tukang sihir yang didukung gereja berlangsung hingga ratusan tahun. Hingga sekarang kita tetap mendengar bahwa tukang sihir itu tetap ada. Sebagian bahkan masih ada yang meyakini bahwa mereka bisa terbang dengan sapu.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *