oleh

Bulan Safar 2021, Rabu Wekasan, Arba Mustamir, Tidak Boleh Menikah?

Bulan Safar 2021

Bulan Safar 2021, Benarkah Sial Tidak Boleh Menikah?. Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah bulan Muharram.

Bulan Safar
Tanggal 16 adalah hari ke 9 Safar, (Sumber: Al-Habib.info)

Bulan Safar 2021, Benarkah Sial Tidak Boleh Menikah? Sejarah dinamakan bulan Safar tentu terdapat alasan khusus, seperti dilansir dari NU, Bahwa merujuk pada penjelasan  Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H). Safar mempunyai arti “sepi” / “sunyi” selaras dengan keadaan masyarakat Arab yang selalu sepi pada bulan Safar.

Imam Ibnu Katsir menerangkan:

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

Artinya, “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.” (Ibnu Katsir, Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146).

Alasan Penamaan Bulan Safar

Ibnu Manzhur (wafat 771 H), Menurutnya, terdapat beragam alasan mendasar di balik penamaan bulan Safar, di antaranya:

  • Seperti penjelasan Ibnu Katsir;
  • Orang Arab mempunyai kebiasaan memanen seluruh tanaman, dan mengosongkan tanah-tanah mereka dari tanamanan pada bulan Safar; dan
  • Pada Bulan Safar orang Arab mempunyai kebiasaan memerangi setiap kabilah yang datang, sehingga kabilah-kabilah itu  harus pergi tanpa bekal (kosong) sebab mereka tinggalkan akibat rasa takut terhadap serangan orang Arab.

(Muhammad al-Anshari, Lisânul ‘Arab, [Beirut, Dârus Shadr: 2000], juz IV, halaman 460).

Keutamaan bulan Safar:

Keutamaan Bulan Safar seperti terdapat dalam Surah  Yunus Ayat 107 dalam Al-Quran , salah satu keutamaan bulan Safar adalah membuat kita menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketauhidan dan menolak khufarat.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya:

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang“.

Nabi Muhammad SAW Bersabda:

Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu?’ Beliau bersabda; ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Bulan Safar Bulan Sial, Mitos atau Fakta?

Di samping itu, Buya Yahya juga mengungkapkan bahwa kata beliau:

“Tidak ada bulan yang dilarang untuk menikah, termasuk Bulan Safar,” tegas Buya Yahya.

Kemudian, dari Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) mengatakan, bulan Safar dan bulan lainnya sama sekali tidak mempunyai perbedaan.

Menurutnya seperti halnya pada bulan lainnya, dalam bulan Safar bisa terjadi keburukan dan juga kebaikan. Bahwa tidak boleh mempunyai anggapan dan meyakini bulan Safar sebagai bulan yang dipenuhi dengan kejelekan dan musibah. Beliau menegaskan:

وَأَمَّا تَخْصِيْصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُوْنَ زَمَانٍ كَشَهْرِ صَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ

Artinya, “Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Safar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.”

Rasulullah SAW Bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya, “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari) (Badruddin ‘Aini, ‘Umdâtul Qâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Kutub: 2006], juz IX, halaman 409).

Lebih lanjut lagi, Habib Abu Bakar Al-Adni menerangkan, terdapat beragam bukti peristiwa yang menolak keyakinan masyarakat Jahiliah atas keyakinannya yang menganggap bahwasanya bulan safar adalah bulan kesialan:

  • Rasulullah saw melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Safar;
  • Pernikahan antara Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra juga di bulan Safar;
  • Hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah bertepatan dengan bulan Safar;
  • Perang pertama, yaitu perang Abwa terjadi pada bulan Safar, di mana umat Islam jusrtu mendapatkan kemenangan telak atas kaum kafir;
  • Pada bulan Safar juga terjadi peperangan hebat yaitu perang Khaibar, dan kemenangan diraih oleh umat Islam. (Abu Bakar al-Adni, Mandzûmatu Syarhil Atsar fî Mâ warada ‘an Syahri Shafar, halaman 9).

Wallahu a’lam, (/Juni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *