oleh

Guru Adalah Induk Semua Profesi

Oleh:Feri Rustandi, S.Pd, M.M (Guru As-Syifa Boarding School Subang-Ketua JSIT Kab Subang)

Ada perkataan sahabat saya “di dunia ini hanya ada 2 profesi, guru dan bukan guru”
kenapa hanya ada 2 profesi, karena semua profesi di dunia ini pasti ada gurunya (berguru).

Seorang dokter sebelum resmi jadi dokter tentu dia pasti ada seorang guru/dosen yang mengajarinya, seorang pengacara tentu dia juga ada sosok yang berjasa menjadi guru dalam ilmu hukum, bahkan seorang presiden pun dia pasti punya guru dari mulai masa sejak TK, SD sampai perguruan tinggi.

Gelar Pahlawan tanpa tanda jasa layak disematkan, seorang guru levelnya sejajar dengan para pahlawan, karena ia rela berkorban dan memiliki keberanian yang tinggi dalam mendidik murid-muridnya, sudah banyak orang sukses dan menjadi orang besar lahir di tangan guru, bahkan murid-muridnya jauh lebih sukses daripada dirinya.

Kebahagiaan seorang guru adalah ketika melihat murid-muridnya bisa menjadi orang berguna bagi masyarakat.

Ia tidak berharap untuk dibalas semua jasa-jasanya melainkan jadi investasi kebaikan menuju kehidupan abadi.

Dalam dunia Pendidikan tidak ada istilah mantan guru, karena ketika seorang murid berguru maka Ia melekat abadi, sebagaimana penulis, sekalipun sekarang menjadi guru, sejatinya saya adalah seorang murid, memiliki guru ketika duduk di bangku SD, SMP sampai pergurun tinggi.

Bahkan sekarang pun masih memiliki banyak guru dalam berbagai bidang. Memuliakan Guru

Mengutip Kompas.com, hasil penelitian Varkey Foundation, sebuah organisasi nirlaba mengukur bagaimana profesi guru dihormati di seluruh dunia.

Survei “Global Teacher Status Index 2018” ini dilakukan di 35 negara, termasuk Indonesia,
dengan meminta pendapat lebih dari 1.000 orang di setiap negara untuk memberikan pandangan mereka tentang profesi guru.

Temuan itu mengungkapkan bahwa profesi guru menikmati status dihormati tertinggi di China, di mana mereka mendapat nilai sempurna 100.

Profesi guru juga mendapat penghargaan tinggi di Malaysia dan termasuk di Indonesia. Di Indonesia tradisi itu bisa terjaga ketika seseorang berprofesi guru, paling tidak semua orang menaruh rasa hormat yang setinggi tingginya sekalipun kalau pengahargaan secara materi kepada guru masih jauh dari kata standar, apalagi menimpa guru honorer atau sekolah swasta yang masih banyak memprihatinkan.

Sangat tidak terpuji kalau ada kejadian ada seorang guru di lecehkan, di hina dan di olok-olok harkat martabatnya.

Salah satu cara penulis memuliakan guru ketika ada waktu yang tepat, dengan cara mengenang dan bersilaturahim kepada guru-guru yang pernah mengajar dari mulai sejak di bangku SD sampai Perguruan Tinggi, bernostalgia ketika dulu ada best moment yang tidak terlupakan.
Melihat raut wajah dan tubuh yang tidak segar lagi terasa sedih hati bahwa mereka sekarang sudah menua bahkan tidak sedikit yang sudah pensiun dan wafat, seorang guru bisa lupa nama-nama muridnya karena terlalu banyak lulusan yang ia hasilkan tetapi seorang murid dia tidak akan pernah lupa kepada semua gurunya, terlebih tidak sedikit nasihat-nasihatnya yang dijadikan prinsip dan bekal dalam mengarungi bahtera hidup bahkan mengantarkan ke kesuskesan hidup.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Barang siapa yang mengajariku satu huruf maka aku siap menjadi budaknya”. Perkataan tersebut memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa seorang guru memiliki posisi yang tinggi dihadapan murid-muridnya.

Profesi guru kalau di ukur secara ekonomi mungkin tidak terlalu menarik tapi ada ukuran yang jauh lebih terpuji bahwa ia merupakan peletak pondasi peradaban dunia, dan pahalanya akan mengalir sampai akhirat.

Sebagaimana hadits nabi dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah
segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *