oleh

Bupati Terabas

HINGGA akhir tahun 2030, warga Subang, pengguna jalan akan menyaksikan dan menjajal jalan-jalan baru. Yaitu:

  1. Jalan Cipendeuy-Serangpanjang: 24,3 Km
  2. Jalan Lingkar Luar Subang: 26 Km
  3. Jalan Cilamaya-Patimban: 37 Km
  4. Jalan Pamanukan-Patimban: 8,2 Km
  5. Jalan Lingkar Cagak: 2,5 Km

Dari lima jalan baru itu, nomor 1-4 berhasil masuk proyek strategis nasional (PSN). Artinya akan dibiayai oleh APBN. Nomor lima, yaitu jalan Lingkar Cagak sudah dikerjakan, sebentar lagi selesai. Dibiayai oleh APBD Provinsi sebesar Rp 10 miliar.

Jalan itu sudah jadi wacana sejak lama. Jadi pembicaraan, wacana, mimpi sejak era bupati Subang dari masa ke masa. Hanya setelah macet makin terasa, setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini, sudah tidak bisa ditunda lagi.

Akhirnya di era Bupati Ruhimat ini jalan Lingkar Cagak itu dieksekusi. Ruas jalan tidak terlalu panjang, hanya 2,5 Km saja. Tapi sangat penting. Untuk mengurai kemacetan dari mulai Cijambe hingga perbatasan Ciater.

Jalan lingkar cagak itu akan dicor. Lebarnya lebih dari 10 meter. Artinya, cukup untuk kendaraan besar. Dari arah Subang akan melewati lingkar cagak ke area Perkebunan-satu arah. Dari Bandung akan melewati jalur lama (saat ini)-satu arah.

Selain lima jalur tadi, sebenarnya ada jalur lama yang diperlebar. Yaitu jalur Cupunagara-Cikole, Lembang sepanjang 8,5 Km. Menembus perbukitan. Menghubungkan perbatasan Subang-Bandung Barat.

Sementara jalan itu sebagian sudah diperlebar menggunakan APBD Subang. Sedangkan tambahan anggaran Rp 22 miliar dari APBD Provinsi gagal atau tertunda karena Covid-19. Anggaran dialihkan (refocusing).

Dari lima rute jalan baru itu, yang akan menantang yaitu rute lingkar luar Subang dan rute Cipendeuy-Serangpanjang. Keduanya akan menembus perbukitan. Lebarnya 20 meter. Jika sudah ada lingkar luar Subang maka kendaraan besar tidak perlu lagi lewat ke wilayah kota. Demikian juga bus-bus pariwisata. Mengurangi kemacetan.

Jalur Cipendeuy-Serangpanjang akan bisa memecah kemacetan dan memperpendek jarak tempuh. Kendaraan ke objek wisata Ciater atau Lembang bisa keluar tol Kalijati, menuju Cipendeuy-Serangpanjang-Jalancagak-Ciater.

Sekaligus membuat warga Serangpanjang, Sagalaherang gembira. Jika ingin bekerja di kawasan industri Cipendeuy-nanti jika sudah jadi, bisa melalui jalur ini. Demikian juga untuk menuju Tol Cipali, tidak usah muter ke Kota Subang.

Di jalur ini akan dibangun tiga jembatan besar dengan biaya miliaran. Satu jembatan akan membentang sepanjang 40 meter. Untuk tiga jembatan itu dibutuhkan anggaran Rp36 miliar. Jalan baru akan menumbuhkan usaha-usaha baru, membuka keterisolasian warga sekaligus mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penduduk karena berkembangnya kawasan industri.

Maka, wajar jika Pemerintah Pusat merencanakan jalur ini diprediksi akan tuntas tahun 2030 mendatang. Menerabas medan yang berat. Akan menelan anggaran hingga Rp 1,4 triliun. Sedangkan jalur lingkar luar Subang diprediksi menelan biaya sekitar Rp968 miliar. Begitu angka-angka yang tertera dalam Peraturan Presiden No 87 Tahun 2021.

Tapi untung Subang punya bupati yang hobi menerabas. Membuat jalan baru. Cocok jika disebut “Bupati Terabas”.

Dengan adanya lima akses jalan baru itu, panjang jalan di Subang bertambah 98,2 Km. Berdasarkan data BPS, dari tahun 2009-2013 panjang jalan Subang tidak bertambah, hanya 1.045, 50 Km.  Dari mulai jalan dibeton, aspal, diperkeras, hingga jalan tanah. Entah sekarang.

Semua pembukaan jalan itu dilakukan saat pandemi Covid-19.  Mengapa bisa masuk Proyek Strategis Nasional (PSN)? Pertama, karena ada usaha untuk membuka jalan-jalan baru itu, sebab syarat dibiayai APBN kondisi tanah harus sudah ada dan tidak sengketa.

Maka Bupati Terabas mengambil inisiatif untuk memilih jalur-jalur di atas lahan milik Perhutani dan PTPN. Kebetulan lahan dua perusahaan negara ini di Subang sangat luas. Entah berapa ribu hektare. Lobi sana-sini akhirnya berhasil membuka jalan-jalan baru. Menerabas bukit juga menerabas rumitnya birokrasi.

Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Nah, di Subang akhirnya ada jalan baru beneran. Bukan hanya pepatah atau istilah.

“Kalau lahannya tidak kita siapkan, tidak kita ajukan mana mungkin akan masuk PSN. Alhamdulilah pemerintah pusat merespons program kita. Untuk anak cucu kita, seratus tahun yang akan datang. Kalau jalan yang ada tentunya itu sudah punya kita,” kata Bupati Terabas, Kang Jimat.

Kedua, Subang masuk plot wilayah kawasan industri Rebana Jawa Barat. Program yang digagas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Meliputi Kabupaten Subang, Indramayu, Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Di setiap kabupaten ini akan tumbuh kawasan industri baru. Daya dukung transportasi sudah memadai: Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, jalur kereta api, dan Tol Cipali.

Bagaimana dengan jalan Cilamaya-Patimban? Ini jalan yang akan memiliki pemandangan indah: birunya laut Jawa. Sebagian titik akan cukup dekat dengan bibir pantai. Jika dilihat dari atas akan menyerupai sabuk pantai (sea belt). Membentang dari barat ke timur hingga Pelabuhan. Mungkin akan bertemu dengan sumbu poros jalan Pamanukan-Patimban.

Sulit dibantah, memang jalan yang ada pun masih banyak yang rusak dan bolong-bolong. Diperbaiki lalu bolong lagi. Juga sulit dibantah, membuat jalan baru itu tidak mudah. Silahkan sesekali menjajal jalan baru yang menerabas bukit itu.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *