Jelang Tahun Baru Islam, Makam Baing Yusuf dan Mama Sempur di Purwakarta Ramai Dikunjungi Peziarah Berbagai Daerah

PURWAKARTA-Ada puluhan bahkan diyakini ada ratusan makam, petilasan dari jejak Alim Ulama penyiar agama Islam terdahulu di Purwakarta yang hingga kini menjadi tujuan umat Islam berziarah.

Dua diantaranya bahkan diyakini dan dikenal hingga ke mancanegara, diantaranya Makam Rd.Moch Yusuf bin Djayanegara yang berada di belakang Masjid Agung di pusat kota Purwakarta dan Makam Mama Sempur di Plered.

Jelang taun baru islam atau di bulan juni khususnya, sejumlah santri dari berbagai Pondok Pesantren dari Purwakarta dan luar kota Purwakarta kerap mengunjungi kedua makam tersebut.

BACA JUGA: Pemkab Purwakarta Terjunkan 201 Mobil Dinas untuk Menjemput 349 Calon Jemaah Haji

Dari hasil liputan langsung di Makom Baing Yusuf misalnya, nampak belasan bus dari luar kota dan kendaraan roda empat memadati areal parkir Masjid Agung tersebut.

Dikenal sebagai penyiar agama Islam di era tahun 1800 an, nama Baing Yusuf yang diyakini masih merupakan keturunan kerajaan Padjajaran merupakan ulama besar kharismatik di jamannya.

Menoreh sejarah sebagai penyiar agara Islam terkemuka yang familiar khususnya di kalangan masyarakat Sunda karena berasal dari keturunan kerajaan Siliwangi, nama Baing Yusuf juga dikenal sebagai pahlawan bangsa. Pada jaman penjajahan Belanda, Baing Yusuf dan para santrinya memiliki karomah yang hingga hari ini terdengar sangat istimewa.

“Berziarah ke makam merupakan sunnah Nabi. Apalagi di makam tersebut merupakan alim ulama, kaum soleh penyiar agama islam,” terang Bah Yai pimpinan pondok pesantren Riyadul Mubtadhiin saat ditemui bersama santrinya yang berziaroh ke makam Baing Yusuf.

Mengenal perjuangan penyebaran agama Islam, mengenal ulama, kemudian bertafakur atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Dalam berziarah khususnya ke makam alim ulama besar, kita bisa lihat bahwa alim ulama yang sudah meninggal dunia masih bisa memberikan manfaat kepada yang masih hidup dengan renggang waktu yang berjarak puluhan bahkan ratusan tahun.

“Ziarah ke Makam atau petilasan ulama-ulama terdahulu sama seperti saat Nabi Muhammad berhenti dan membacakan doa pada makam para mujahidin atau tentara islam yang sahid di peperangan Uhud. Nah dari riwayat itu, kita memiliki sunnah atau tradisi berziarah,” lanjut Bah Yai.

Dia menjelaskan Baing Yusuf merupakan sosok ulama besar di Purwakarta. Selain dikenal karena Karomah yang sulit dijelaskan dengan kata kata, keturunan Padjajaran ini juga sebagai penyusun kitab Fiqih dan Tasyaquh.

“Beliau diketahui pernah belajar di Mekkah dan berguru ke Syech Campaka Putih atau biasa masyarakat memanggil Pangeran Diponogoro,” pungkasnya.(mas/sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.