DPMD Provinsi Jabar Gelar Sosialisasi Desa Tangguh Bencana, Masyarakat Dituntut Sadar Bencana

Editor:

GARUT – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat menggelar Sosialisasi Desa Tangguh Bencana pada 18 desa yang tahun ini naik strata dari desa tertinggal menjadi desa berkembang maupun desa maju. Bertempat di Hotel Santika, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, sosialisasi ini dibuka oleh Kepala DPMD Provinsi Jawa Barat, Dicky Saromi.

Menghadirkan tiga narasumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, sosialisasi dibagi ke dalam tiga sesi materi yang berlangsung selama dua hari (12-13/7).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dicky Saromi menegaskan pentingnya desa untuk memiliki pengetahuan dalam mengurangi resiko dari terjadinya bencana.

Di hadapan para peserta yang terdiri dari unsur relawan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa dan Patriot Desa,  Jawa Barat memiliki potensi bencana hampir sama di setiap bagian wilayahnya. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di bidang penanggulangan bencana, Dicky juga menyampaikan tiga tahapan dalam menghadapi bencana yang meliputi pra bencana, saat terjadinya bencana dan pasca bencana. “Desa yang siap menghadapi bencana umumnya yang memiliki pengetahuan prabencana dan siap siaga dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana ini tak lain untuk mengurangi resiko dari bencana itu sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Edy Heryadi, memaparkan budaya sadar bencana harus dimiliki setiap individu di desa, tidak cukup jika hanya mengandalkan perangkat desa. Edy juga menyampaikan pentingnya bagi desa untuk merancang mitigasi bencana serta Early Warning System (EWS) khususnya bagi desa-desa di wilayah yang rawan bencana.

Staf Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Jawa Barat, Ade Arif Riansyah menjelaskan secara rinci bagaimana merencanakan evakuasi penduduk termasuk menentukan jalur teraman dan tercepat yang bisa diaplikasikan oleh peserta di desanya masing-masing.

Dengan berdasar pada peta citra satelit yang difasilitasi oleh DPMD Provinsi Jawa Barat, para peserta diberi kesempatan untuk menggambar peta desanya sendiri dan menentukan titik-titik lokasi yang aman sebagai titik kumpul maupun jalur evakuasi sebagai upaya awal menghadapi potensi bencana.

Johanes Wirasto, fasilitator Desa Tangguh Bencana BPPD Provinsi Jawa Barat dalam paparannya menyebutkan jika desa tangguh bencana (destana) adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana serta memulihkan diri dengan segera dari dampak-dampak bencana yang merugikan. Ia mengatakan,

“Desa tangguh bencana memiliki kemampuan mengenali ancaman di wilayahnya dan mengorganisasikan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk mengurangi kerentanan sekaligus meningkatkan kapasitas dalam mengurangi resiko bencana dengan melibatkan semua pemangku kepentingan,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, salah satu peserta, Dede Solehudin, dari LPM Desa Pameutingan Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan Sosialisasi Desa Tangguh Bencana ini. Menurutnya, setelah mengikuti sosialisasi ini, ia beserta rekan relawan dan Patriot Desa merasa tercerahkan dan ingin mengajak semua individu termasuk para perangkat di desanya untuk sadar bencana. (sah/dpmd)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.