Pemkab Bandung Bentuk Tim Khusus Percepat Penurunan Angka Stunting

Editor:

KABUPATEN BANDUNG-Stunting masih berpotensi terjadi dan harus menjadi perhatian prioitas pemerintah. Maka dari itu, dalam percepatan penurunan angka stunting, Pemerintah Kabupaten Bandung membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, memaparkan bahwa dibentuknya TPPS tersebut diharapkan bisa menjadi upaya dalam percepatan penurunan angka stunting.

“Target percepatan penurunan (angka) stunting Nasional adalah empat belas persen pada tahun 2024 (mendatang),” kata Dadang atau akrab disapa Kang DS.

Dari informasi yang dihimpun via Jabar Ekspres, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat, mengakui dan sempat memberi apresiasi terhadap komitmen dan kontribusi Kabupaten Bandung perihal pembinaan dan perluasan inovasi cegah stunting tingkat wilayah.

“Untuk itu, saya berharap agar sistem pemantauan dan evaluasi terpadu dari semua program prioritas,” ujar Kang DS.

Program-program yang dimaksud pria nomor satu di Kabupaten Bandung itu, yakni terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif secara terstruktur. Karenannya, dilanjutkan Kang DS, dengan upaya-upaya percepatan penurunan angka stunting tersebut, ke depannya diharapkan dapat dilakukan dengan baik, agar Kabupaten Bandung bisa mencapai target menekan stunting.

“Presiden menargetkan tahun 2024 angka stunting turun empat belas persen. Sementara berdasarkan data dari Dinkes Jabar, presentase balita stunting di Kabupaten Bandung tercatat sebesar 7,32 persen,” ucapnya.

Diketahui, program pencegahan stunting merupakan salah satu program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang menunjang sektor pertumbuhan lainnya. Mengenai percepatan penurunan angka stunting itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sedikitnya telah terbentuk TPPS di 31 kecamatan dan sudah memiliki 8.376 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri  dari kader PKK, kader KB dan Bidan.

Adapun fungsi dan tugas tim-tim tersebut, bertujuan untuk mendampingi keluarga yang berisiko stunting seperti calon pengantin (Catin), ibu hamil (Bumil) hingga ibu bersalin (Bulin).

“Mudah-mudahan, upaya ini bisa dilakukan dengan baik, sinergis dan benar-benar berdampak, khususnya menekan stunting yang saat ini masih ditemukan di 65 desa di Kabupaten Bandung,” imbuhnya.

Dalam pemaparannya, Kang DS berharap, agar upaya percepatan penurunan angka stunting bisa konsisten dan berdampak tak hanya di Kabupaten Bandung namun juga secara Nasional.

“Untuk percepatan penurunan stunting diperlukan Inovasi daerah berbasis kolaborasi pentahelix agar terjadi lompatan positif terhadap hasil kinerja penurunan stunting,” pungkasnya.

“Saya harap semua elemen terkait bisa berkontribusi secara positif,” jelas Kang DS.(je/sep)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.