Memaknai Kemerdekaan dalam Perspektif Al-Qur’an

Memaknai Kemerdekaan dalam Perspektif Al-Qur’an
Feri Rustandi, S.Pd, M.M
0 Komentar

Ketiga, dalam QS. Al-Balad: 15, Allah berfirman, “(memberi) anak yatim yang ada hubungan kerabat.” Anak yatim merupakan objek yang perlu jamin, di lindungi dan dikasihani dalam bingkai kemerdekaan. Perhatian pada anak yang tidak memiliki Ayah, atau bahkan Ibu, menjadi salah satu alat ukur bagi eksitensi sebuah negara sudah merdeka.

Dan keempat, dalam QS. Al-Balad: 16, Allah berfirman, “(memberi) atau orang miskin yang sangat fakir.” Sebagaimana orang yang kelaparan dan anak yatim, fakir dan miskin juga menjadi objek yang harus dimerdekakan, baik oleh negara maupun orang-orang yang mampu. Karena di balik harta orang-orang kaya ada hak fakir miskin.

Dalam tinjauan Siroh Nabawiyah makna kemerdekaan bisa di ambil dari kisah sukses Nabi Muhammad SAW dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi (Lihat QS Al-Maa’idah:3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis untuk memaknai kemerdekaan secara lebih holistik dan integral. Ketika diutus 14 abad silam, Nabi Muhammad menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup (QS Luqman: 13; Yusuf: 108; Adz-Dzaariyaat: 56; Al-Jumu’ah: 2), penindasan ekonomi (QS Al-Humazah: 1-4; Al-Maa’uun: 2-3 dan (QS Al-Hasyr: 7), dan kezaliman sosial (QS Al-Hujuraat:13).

Baca Juga:Asal Usul Monumen Pejuang Kemerdekaan Indonesia Kartadara di Cigadung, Lima Orang Diabadikan Jadi Nama DaerahSetelah 45 Tahun, SMPN 1 Binong Akhirnya Miliki Kantin Sehat

Dari makna kemerdekaan yang terdapat QS Al-Balad 14-16 Nabi Muhammad SAW sudah mampu mempraktikan dengan sangat baik dan sempurna selama masa hidupnya. Sehingga cukup dengan meneladani kehidup beliau untuk menjadikan negara kita menjadi negara yang benar-benar merdeka. Kisah para Nabi dan Rasul lain pun mereka ditugaskan membawa misi Tauhid, yang tidak lain hanya bermakna memerdekakan dan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan manusia atas manusia yang lain seperti kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan, serta kesengsaraan hidup, dan merdeka dari pengambaan pada manusia dan alam semesta. Al-Qur’an menegaskan: “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin Tuhan mereka”. (Q.S. Ibrahim: 1).

Menjadi renungan buat kita semua, Apakah kita sudah merdeka ? jawaban yang terpenting adalah bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita sudah mampu merdeka dari segala perbudakan hawa nafsu yang menimpa kita. Mampukah kita menjadi pemenang dalam mengendalikan hawa nafsu. Karena orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu adalah salah satu ciri orang yang bertaqwa.

0 Komentar