Subang Masih Lumbung Padi Nasional, Produksi Konsisten Urutan Ketiga

Editor:

SUBANG-Kabupaten Subang masih layak dikatakan sebagai lumbung padi nasional. Bertahan di posisi ketiga sebagai penghasil padi terbesar se Indonesia pada tahun 2021. Sementara itu, posisi pertama dan kedua sebagai daerah penghasil produksi padi terbesar di Indonesia yakni Indramayu dan Karawang.

Dalam tiga tahun terakhir, produksi padi Kabupaten Subang masih tinggi dan tetap berada di urutan ketiga. Tahun 2019 produksi padi di Subang mencapai 942.932 ton, tahun 2022 mencapai 970.760 ton dan tahun 2021 mencapai 959.456 ton. Produksi padi tahun 2021 ini mengalami peningkatan dari dua tahun sebelumnya.

Pemerintah pusat mengapresiasi kepada daerah dengan produksi padi terbesar. Bupati Subang, H Ruhimat menerima penghargaan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Jakarta, Minggu (14/8).
Penghargaan tersebut juga diberikan kepada daerah penghasil padi lainnya seperti Indramayu, Karawang, Banyu Asin, dan Bone.

Bupati Subang, H Ruhimat mengapresiasi kepada para petani sehingga Subang masih mampu memproduksi padi sebanyak 959.456 ton tahun 2021. Dengan produksi itu, Subang berada di peringkat ketiga sebagai penghasil padi terbesar di Indonesia.

Bupati pun mengajak kepada berbagai pihak untuk mempertahankan status lumbung padi nasional. “Yuk kita pertahankan status lumbung padi nasional,” ajak Ruhimat.
Dia pun mengajak agar ada kolaborasi antara pertanian tradisional dan modern.
Sementara itu, Mentan Yasin Limpo menyampaikan, penghargaan yang diberikan tersebut bukanlah penghargaan abal-abal. Penghargaan tersebut sudah melalui riset.

“Penghargaan tersebut adalah penghargaan akbar untuk bangsa ini. Kita harus tetap bersiap-siap, pandemi belum usai, dan selanjutnya ada climate change yang mengakibatkan inflasi dan kelangkaan pangan. Walau negara lain dihantam gelombang dan badai, Indonesia akan kokoh karena pertanian,” jelasnya.

Dia menuturkan, ketahanan pangan Indonesia adalah yang terbaik. Hal tersebut terbukti dengan Indonesia tanpa impor beras dalam tiga tahun ke belakang.
“Saat ini kita mengulang kembali kejayaan 38 tahun lalu (Swasembada beras 1984). Inilah yang kita persembahkan pada bangsa ini, kita mempunyai beras bahkan over stock 10,2jt ton,” ungkap Yasin,

Yasin menyampaikan, Indonesia diakui oleh dunia pada bidang ketahanan pangan. Bahkan pada inflasi yang melanda dunia, Indonesia termasuk yang terendah, yaitu di bawah 4% persen.

Yasin mengutip Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan bantalan Indonesia menghadapi Covid adalah pertanian.
Dia menjelaskan, saat penyerahan penghargaan dari IRRI untuk Pemerintah Indonesia, FAO menyatakan Indonesia adalah best practice / tata cara pertanian yang baik di dunia. Yasin pun meminta kepada presiden RI Joko Widodo agar ada ruang khusus untuk apresiasi pangan Indonesia di Presidensi G20 mendatang.

Dalam kesempatan itu, dia mempresentasikan strategi baru dan langkah operasional menghadapi krisis pangan global. Dia mengajak kepada kepala daerah dan jajarannya untuk mendukung pengembangan pertanian di Indonesia.
“Ayo para kepala daerah, saya masih punya Rp20-an triliun KUR untuk disalurkan kepada petani,” ujarnya.(ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.