Kementrian Pertanian Serahkan Bantuan Rp7 M untuk Pengembangan Perkebunan di Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara

Kementrian Pertanian Serahkan Bantuan Rp7 M untuk Pengembangan Perkebunan di Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara
0 Komentar

Secara terpisah, Dirjen Perkebunan Andi Nur Alam Syah menyatakan Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya tingkatkan produktivitas tanaman bernilai ekspor, khususnya komoditi perkebunan. Ada tiga strategi untuk menuju kondisi ideal agar terus berjalan yakni intensifikasi dan ekstensifikasi.

Ada tiga strategi menuju kondisi ideal. Pertama, peningkatan produktivitas untuk jangka pendek melalui Intensifikasi yaitu bantuan pupuk dan saprodi lainnya.

“Dalam jangka panjang menggganti tanaman rusak dan tanaman tidak menghasilkan (TR dan TTM) yaitu penyediaan varietas unggul untuk peremajaan dan perluasan dengan melalui nursery dan penyediaan benih kerjasama dengan BPTP,” ujar Andi Nur.

Baca Juga:Film Argantara Kapan Rilis, Ini Informasi LengkapnyaViral Suami Pukuli Istri, Pelaku Langsung Diringkus Polisi

Stragei kedua, lanjut Andi Nur, dengan peningkatan kapasitas produksi melalui ekstensifikasi dengan penyediaan varietas unggul dan saprodi lainnya. Ketiga, peningkatan nilai tambah dan daya saing melalui pengembangan ekosistem perkebunan dan informasi pasar. serta market intelegence, penerapan GAP dan GMP, serta penyediaan alat pasca panen dan pengolahan.

Upaya pemerintah dalam pengembangan perkebunan nasional antara lain dengan logistik benih dan pengembangan kawasan melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi untuk meningkatkan produksi komoditas (program jangka panjang) kelapa, jambu mete, kakao, karet, lada, cengkeh, teh, vanili, dan kayu manis.

Selain itu, lanjut Andi Nur, pihaknya juga melakukan pengembangan kawasan melalui Intensifikasi (program jangka pendek) untuk meningkatkan produksi kopi, kakao, karet, lada, pala dan cengkeh.

Sedangkan untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing melalui penyediaan alat pasca panen dan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kopi, karet, kelapa, kakao, pinang, kayu manis, dan nilam. Untuk skema pembiayaan tidak hanya mengandalkan APBN/APBD, namun juga melalui pemanfaatan KUR dan CSR serta investasi.

Tingginya permintaan akan biji kakao baik didalam dan luar negeri maka Direktorat Jenderal Perkebunan (DitjenBun), Kementerian Pertanian (Kementan) konsisten dalam mengembangkan tanaman kakao, dan di tahun 2022 ini ditargetkan seluas 5.450 hektare (Ha).

Pengembangan tanaman kakao dilakukan baik melalui peremajaan ataupun intensifikasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Sehingga dengan meningkatnya produktivitas maka pendapatan petani otomatis juga akan meningkat, terlebih sebagian tanaman kakao dimiliki oleh petani. Untuk kakao tahun ini mengalokasikan pengembangannya seluas 5.450 hektar.

Laman:

1 2
0 Komentar