Pojokan 137, Lato-Lato Al-Ghausy
Machiavellian tulen tak peduli dengan moralitas.
Tak ada garis keturunan antara moralitas dengan politik.
Tak ada tempat dalam politik untuk membicarakan moralitas.
Begitu kira-kira politik lato-lato Machiavellianisme.
Agama, hanya masuk dalam salah satu daftar menu politik lato-lato untuk diumpankan.
Disamping suku, etnis dan kelompok atau apapun, menjadi bagian dari identitas yang dipolitisasi sebagai amunisi politik lato-lato.
Politik lato-lato tidak menempatkan ajaran kasih sayang dan nilai kemanusiaan pada sisi yang mulia.
Justru agama dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan kekuasaan.
Baca Juga:Download Minecraft Versi 1.19.51.01 Februari 2023, Lengkap Versi 1.20 Free Link di SiniProgram OPOP Mulai Diterapkan di Pesantren Al Kautsar Al Marbun Medan
Hanya yang bisa memainkan identitas-identias dalam politik lato-lato yang bisa meraih kekuasaan.
LIHAT JUGA: Pojokan 138, NU Biasa
LIHAT JUGA: Pojokan 135, Tirai
Semakin dia bisa memainkan politik lato-lato yang membebalkan nalar masyarakat, dia semakin kuat ke kursi kekuasaan.
Bagi penganut lato-latonian-MAchaviellian, agama hanya bagi mereka yang tak berdaya, mencari hiburan dalam bidang spiritual.
Seperti Al-Ghausy, menjelang tahun politik 2023-2024 (Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden), politik lato-lato sudah mulai di pasarkan dan dimainkan.
Memanfaatkan kemasan media sosial yang menjadi kehidupan baru tanpa jiwa.
Membanjirinya dengan manipulasi, distorsi serta framing informasi bahkan hoaxs.
Untuk membebalkan nalar pikir masyarakat. Menyerok dukungan dari fanatisme identitas yang terpolitisasi.
Agar tak mudah dibenturkan, ada baiknya menengok wejangan Gus Mus (KH Mustofa Bisri).
“Jika bukan mainan, jangan mau dibentur-benturkan,” tulis Gus Mus di akun Facebook-nya.
Baca Juga:Program OPOP dan Kredit Mesra Jabar Diterapkan di Sumatra UtaraLink Tes DEPRESI Google Form, Update 2023! Mental Kamu Aman? Tes di Sini
Maka, “Jika tidak mau dibenturkan, jangan mau dijadikan mainan”. (Kang Marbawi, 020223)
