Nadiem Makarim Buka Sekolah Jurnalisme Indonesia

Nadiem Makarim
0 Komentar

BANDUNG-Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyebut dunia jurnalisme saat ini tengah bersaing dengan Artificial Intelegence (AI) atau kecerdasan buatan.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang ada saat ini bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme di Indonesia. Hal itu disampaikan Nadiem dalam sambutannya di pembukaan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Kelas Muda Angkatan Pertama di Sekretariat PWI Jawa Barat, Jalan Wartawan, Lengkong, Kota Bandung, Selasa (5/2).

Dalam momen itu, Nadiem pun berpesan agar para wartawan tetap menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi informasi. “Tentunya teknologi telah mengubah segala aspek daripada sektor jurnalisme. Disruptif kondisinya. Tapi itu bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme,” kata Nadiem melalui rilis yang diterima redaksi.

Baca Juga:Disdukcapil Karawang Percepat Perekaman E-KTP Pemilih BaruKapolres Purwakarta Pastikan Pengawalan Ketat Pendistribusian Logistik ke Dapil

Disebutkannya, jurnalis harus berkompetisi dengan AI sekarang. “Kita harus berintegritas, berpikiran kritis, kita harus menulis dengan hati nurani, karena itu yang tidak dimiliki oleh mesin kecerdasan buatan,” ujarnya.

Nadiem pun mengaku sempat dibuat pusing oleh beberapa publikasi berita online atau daring yang mengasumsikan bahwa dirinya sebagai pembaca yang sedang mengikuti isu tertentu. Padahal, dirinya baru membaca isu yang tengah mencuat. Nadiem juga mencontohkan, publikasi media The Economist yang menurutnya lebih enak untuk dibaca. “Itu setiap orang dijelaskan, bahkan orang tekenal sekali pun dijelaskan siapa dia. Seolah-olah pembaca tidak mengetahui hal itu. Itu adalah standar jurnalisme yang perlu diterapkan, sehingga masyarakat pun naik tingkat literasinya,” ucapnya.

Dijelaskan Nadiem, sekarang, terjadinya misinformasi, disinformasi menjadi sangat rentan di masyarakat, karena tidak ada standar penulisan yang komprehensif dan integritas yang kuat.
Sementara itu, Ketua PWI Pusat Hendri Ch Bangun menyebut SJI merupakan lanjutan dari program yang sebelumnya sudah digagas pada 2016 lalu.

Menurutnya, SJI merupakan program peningkatan kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi menurutnya, SJI adalah ikon dari PWI yang sudah berjalan sejak lama. “Pada saat itu, pertama kali diadakan di Palembang pada 2010 dengan pemberi kuliah pertama Presiden SBY. Untuk kali ini, multitasking jurnalisme menjadi andalan. Termasuk berpikir kritis, berwawasan kebangsaan, dan menjaga integritas,” kata Hendri.(add/sep)

0 Komentar