oleh

MENAKAR RELIGIUSITAS ORMAWA KAMPUS UMS

Oleh
Drs.Priyono, Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Siti Nur Aisah, Mahasiswi F.Geografi UMS dan aktivis IMM serta Penerbitan

Organisasi mahasiswa atau yang lebih sering kita dengar dengan ormawa merupakan suatu wadah (organisasi) bagi mahasiswa yang ada di suatu universitas yang bersifat membangun kemampuan mahasiswanya itu sendiri, baik yang bersifat soft skill maupun hardskill.

Universitas sendiri merupakan jembatan bagi seorang mahasiswa yang akan mengantarkannya menuju dunia pekerjaan atau kehidupan yang sesungguhnya.

Dunia kerja membutuhkan orang yang berkompeten serta memiliki kemampuan akan suatu hal.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan di bidang soft skill akan memberikan kontribusi yang nyata dalam kesusksesan hidup dan memenangkan kompetisi dalam bersaing.

Dan untuk memenangkan kompetisi hrs memiliki kompetensi yang comprehensive dan itu bisa dicapai melalui hijrah dari zone nyaman ke zona penuh tantangan di ormawa.

Parameter keberhasilan akademik mahasiswa dapat dilihat dari nilai IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang diperolehnya semasa berada di bangku perkuliahan.

Meskipun dengan pernyataan ini, tidak semua setuju , akan tetapi IPK adalah penilaian akademik kumulatif dari semua dosen yang memiliki keahlian yang berbeda dan karakter yang berbedqa pula.

Namun, sejatinya kemampuan akademik saja tidak cukup mengantarkan seseorang untuk bersaing di dunia kerja yang kini sangat ketat persaingannya. Selain kemampuan akademik, seorang mahasiswa seharusnya juga mengantongi kemampuan soft skill.

Mahasiswa harus punya soft skill

Kemampuan soft skill ini dapat menambah nilai lebih tersendiri bagi seorang mahasiswa. Kemampuan soft skill tidak akan di peroleh melalui kegiatan perkuliahan yang berlangsung di kelas, akan tetapi kemampuan ini diperoleh ketika seseorang menjadi aktivis kampus.

Salah satu caranya yaitu dengan mengikuti organisasi mahasiswa (ormawa).

Banyak sekali manfaat yang akan didapatkan tatkala kita berani keluar dari zona nyaman dan melibatkan diri mengikuti ormawa yang ada.

Sudah bukan hal yang asing lagi di benak kita, beberapa manfaat yang akan diperoleh seperti kemampuan manajemen waktu, mendapat banyak relasi, serta melatih diri untuk beradaptasi hidup dibawah tekanan.

Tekanan yang sangat dirasakan adalah tekanan mental. Dimana kita dituntut untuk dapat menyelesaikan suatu program kerja yang terkadang terkendala suatu hal dan sesegera mungkin harus dapat menemukan solusi.

Selain hal diatas, manfaat yang dapat dirasakan langsung yaitu terkait dengan manajemen waktu. Kadangkala kita terjebak dalam kondisi yang sangat tidak nyaman, dimana kita harus berjibaku dengan waktu baik untuk berkuliah ataupun dateline program kerja yang ada di suatu ormawa.

Betapa pentingnya peran keahlian soft skill ini maka beberapa perguruan tinggi sudah menerapkan sks dalam kegiatan soft skill yang menjadi syarat untuk kelulusan.

Kebjakan ini sangat cerdas karena bisa memacu untuk meningkatkan kualitas produk lulusan. Bahkan mulai akreditasi yang baru BAN PT telah menerapkan standar baru bahwa kegiatan akademik di PT harus berbasis pengembangan yang out putnya pada publikasi sehingga memberi manfaat yang lebih luas.

Bisa mengatur waktu

Sebenarnya kuncinya hanya satu dalam manajemen waktu, ketika seseorang menjaga sholatnya maka Allah akan menjaga waktu-waktu yang lainnya.

Penting betul bagi setiap orang menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Apabila seorang aktivis mahasiswa sudah terbiasa on time menunaikan ibadah shalat, maka kemungkinan ia dapat melakukan manajemen waktu yang baik.

Islam telah menanamkan disiplin dalam kehidupan sehari hari, bahkan islam menjamin uamatnya akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar bila melaksanakan sholat dengan sebenar benarnya.

Saya rasa, kebiasaan tersebut juga dapat dijadikan sebagai indikator tingkat religiusitas seseorang.

Apabila seluruh anggota ormawa kampus melakukan hal yang serupa niscaya ormawa tersebut menjadi ormawa yang unggul dengan sumber daya manusianya yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi dan mampu berdaya saing dengan universitas lainnya.

Tingkat keberagaman atau tingkat religiusitas para aktivis dapat di lihat dari beberapa parameter yang dapat diamati secara langsung, diantaranya terkait sholat tepat waktu, menjalankan ibadah puasa baik puasa ramadhan maupun puasa sunnah yang lainnya, disiplin kejujuran terutama pada saat mengerjakan ujian, kesantunan dalam berbicara, cara berpakaian seseorang, serta bagaimana seorang tersebut menjaga kebersihan diri.

Jalankan ibadah tepat waktu

Ada yang mengatakan bahwasanya kebersihan sebagian dari iman, akan tetapi pada faktanya kebersihan pangkal kesehatan. Apabila seseorang sudah disiplin dalam menjaga kebersihan diri niscaya ia akan senantiasa hidup dalam lingkungan yang sehat dan sukar terjangkit penyakit.

Secara garis besarnya dapat dikatakan bahwa tingkat religiusitas ormawa yang ada di UMS sudah baik, contohnya saja yang ada di fakultas geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta, hampir setiap hari sekre (basecamp) ormawa selalu dipenuhi oleh mahasiswa.

Tak lupa ketika sudah memasuki waktu salat pun mereka menunaikn ibadah shalat secara berjamaah. Hal tersebut menghasilkan pemandangan yang harmonis antar ormawa yang terjalin dengan baik.

Namun, tidak menampik bahwasanya masih ada saja mahasiswa yang melakukan penyimpangan seperti tidak melaksanakan salat 5 waktu dan perilaku islami.

Harapannya kebiasaan tersebut dapat berdampak baik langsung maupun tidak langsung bagi mahasiswa umum. Menjalankan ibadah tepat waktu, mengaji bersama, ataupun sekadar berdiskusi terkait isu-isu akan permasalahan religi yang sedang hangat diperbincangkan harus menjadi menu ormawa kampus berbasis islami.

Berikut tips yang dapat dilakukan guna meningkatkan religiusitas ormawa yang ada di kampus :

1. Semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa
Selalu menanamkan diri bahwasanya setip kegiatan yang kita lakukan mendapatkan perhitungan di hari akhirat kelak membuat seseorang akan selalu mawas diri ketika akan berbuat maksiat dan taat dalam menjalankan ibadah secara tepat waktu. Alloh swt berfirman dalam QS Ad Dhua ayat 4 : “ Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.

2. Memilih lingkaran pertemanan yang sehat
Tidak dapat dipungkiri bahwsanya karakter kita sebagian besar dipengaruhi dari lingkungan yang terdekat dan yang paling mendominasi. Hal tersebut berasal dari lingkungan pertemanan, penting betul kita memilah dan memilih pergaulan yang tepat agar diri tidak akan tersesat.

Sebagai kampus yang berlandaskan keislaman, Universitas Muhammadiyah Surakarta sendiri sudah melakukan banyak upaya yang dilakukan guna meningkatkan tingkat religiusitas mahasiswanya, beberapa cara yang sudah ditempuh yaitu dengan melaksanakan gerakan cinta subuh, mentoring, serta mengikuti kegiatan Baitul Arqam di pondok sobron selama 4 hari lamanya.

Di IMM juga rutin setiap jum’at malam ada kajian tematik dan mengaji bersama. Nilai islami juga mulai diintegrasikan kedalam ranah akademik baik dalam kurikulum maupun non kurikulum.

Harapannya hal tersebut juga mendatangkan dampak positif baik secara langsung maupun tidak langsung bagi universitas. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia (mahasiswa) yang ada dapat meningkatkan pula mutu suatu universitas.

Dengan demikian, terbentuknya pola masyarakat kampus yang unggul baik dalam segi akademik maupun non akademik serta islami dapat terwujud. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *